The Untold Story #part. 5
limbung ia membereskan semua bekas makanan di hadapannya
... The Untold Story #part. 4...
SIAPA LAKI-LAKI YANG BERADA SATU ATAP DENGAN KU INI TUHAN??
“Tuhan, siapa laki-laki yang berada
di bawah satu atap dengan ku saat ini Tuhan?? Dia bukan suamiku, lalu kau bawa
kemana Suamiku Tuhan?? Aku mohon kembalikan suami ku Tuhan, Aku mohon
kembalikan ERICK JONATHAN suami ku Tuhan” sebersit doa yang ia ucapkan kala
itu, memohon dan terus memohon. Meminta dan terus meminta sang empuna jalan
kehidupan untuk mengembalikan sesosok pria bernama ERICK JONATHAN kembali
kesisinya, dan terus berharap bahwa bahteranya itu akan baik-baik saja.
**
Esok
paginya semua berjalan sama seperti biasa, tak satu detikpun waktu tersebut
dapan mengalahkan kegesitan seorang achie, bak ibu rumah tangga yang sudah
sangat khatam, ia memulai semua kegiatannya bahkan sebelum alarm di
handphonenya berbunyi. Semua berjalan sama seperti kemarin, menyiapkan makanan,
mebangunkan tuan besar, menyiapkan pakaian, manantinya di meja makan untuk
sarapan.
Namun ada pemandangan yang sangat
mengejutkan pagi itu, apa yang sudah achie siapkan di tempat tidur itulah yang
Erick pakai. Di pandanginya seolah mimpi, sedikit berbuncah gembira hatinya,
ini hari ketiga ia tak mau kalah dengan keadaan, paling tidak setelah selama
ini tak di hargai pagi itu seleranya dalam menyiapkan pakaian sedikit di hargai
oleh laki-laki tersebut.
“sangu atau engga??” tanyanya singkat
“boleh deh” jawab laki-laki itu tak
kalah singkat.
Bergegas achie mengambil peralatan
makan untuk Erick sarapan, dan setelah itu ia mempersiapkan bekal untuk di bawa
Erick ke kantor.
“mau lagi minumnya, atau teh itu
aja??”
“air putih juga boleh”
“es apa biasa??”
“air kulkas aja”
Percakapan yang lumayan stabil pagi
itu, seolah tidak terjadi apa-apa malam sebelumnya. Setelah selesai Erick
bersiap, dan achie mengantarkannya ke depan pintu untuk melepasnya pergi ke
kantor, sama seperti 2 hari kemarin. Di ulurkan tas kecil Erick, setelah Erick
selesai mengenakan sepatu.
“aku berangkat dulu bey. Kamu tidur
lah sebentar, jangan ga tidur terus nanti sakit” pamitnya, sembari memberikan
pelukan, mengecup bibir achie 3 kali, lalu mengecup kening achie. Ritual
berangkat kerja yang 2 hari ini hilang pagi
itu kembali mewarnai pagi hari mereka. Di tatapnya laki-laki tersebut, terus di
tatapnya sampai berlalu dan hilang di pagar kompleks mereka. Tak terasa setetes
air mata menetes di pipi gadis yang memiliki sedikit darah ambon ini, masih tak percaya apa yang baru saja
terjadi, seolah mimpi, setelah keributan yang terjadi tadi malam, kemudian pagi
itu hal seindah itu yang terjadi. Sungguh hal yang di luar akal sehat achie.
Cukup bahagia ia pagi itu.
“meskipun hanya karena iba, tak
apalah yah, yang terpenting pagi ini ga ada keramean” batinnya. Kemudian ia
bersiap menaiki anak tangga setelah menuliskan secarik pesan untuk mba titin,
agar supaya mba titin tidak perlu membangunkannya hanya untuk menayakan masak
apa hari ini. Kemudian setelah beberes, mengganti pakaian tidurnya dengan yang
bersih, menelan obat sakit kepalanya, di hempaskan badannya di kasur di sisi
biasa Erick biasa tidur, di hirup dalam-dalam aroma yang menempel di kasur,
bantal, guling dan selimut bagian itu. Ya achie merindukan suamiya. Achie
merindukan aroma tubuh laki-laki yang lima tahun ini selalu ia hirup sebelum
dan ketika ia membuka matanya setiap hari, aroma yang setidaknya sebulan ini
tidak lagi ia hirup. Dan tak lama setelah mengirim pesan singkat kepada Erick
bahwa ia minta ijin untuk tidur sebentar karena sakit kepala yang teramat
sangat, kesadarannya pun hilang di telan kelelahan yang teramat sangat. Achie
tertidur dengan senyum di bibirnya.
**
08.15 kala itu, achie mulai gelisah
seperti biasa, seperti hari kemarin, tetap tak juga ada kabar berita, meski
sudah mulai terbiasa, namun tetap tak bisa ia tutupin, ia gelisah.
“Tuhan, tadi pagi susah baik-baik
saja, jangan ada apa-apa lagi malam ini Tuhan… Boleh??” rayunya kepada Tuhan.
Di nyalakan tv di hadapanya, mencoba
ia menikmati tayangan “Dangdut Academy” kala itu, sekuat tenaga ia mencoba
untuk santai, seolah semua berjalan seperti biasanya. Namun telinganya tak
lepas dari suara-suara di luar pintu rumahnya, lagi tak mau ia kalah dengan
apapun demi perjuangannya. di rebahkan tubuhnya di karpet depan tv tempat biasa
dimana ia selalu tiduran menanti Erick pulang, dirasakan kesakitan yang amat
sangat di sekujur badannya, hadiah dari ketegangan dan kurang istirahatnya
beberapa hari ini. Luka goresan di pergelangan tangannya pun tak kalah perih.
10.35 jam kala itu, hampir achie
hilang kesadarannya karena kantuk yang sungguh amat sangat. Sayup kembali ia
dengar suara motor yang sangat familiar memasuki garasi rumahnya, lompat achie
menuju pintu, dirapikan baju dan rambutnya, di siapkan senyuman terbaiknya demi
menyambut suaminya yang beranjak kembali pulang, kemudian ia membukakan pintu.
“maaf bey aku kemaleman, tadi kerumah
mami dulu, ada yang di urusin, maaf ga ngabarin kamu hp ku mati, powerbank aku
kosong, aku juga ga bawa kabel charger” alasannya panjang, sembari memberikan
tasnya kepada achie, mengecup kening achie, mengecup bibirnya 3 kali dan
kemudian masuk kedalam rumah mengikuti achie.
“iya ga papa” senyum achie merekah
seindah bunga sakura yang bermekaran. Sambil menyodorkan segelas air dingin.
Lalu berlalu mengambil piring, untuk menyiapkan makan malam saat itu.
“aku mandi dulu yah, gerah banget”
pamit Erick dan berlalu tanpa sempat achie menjawab.
“Terimakasih Tuhan. Biarkan ini
baik-baik saja sampai besok pagi. Cukup Tuhan aku lelah, aku ingin istirahat
semalem saja.” Batinnya. Dan kemudian semua berjalan baik-baik
saja, obrolan hangat di meja makan malam itu, sungguh di luar kepercayaan
achie, Tuhan dan dewi fortuna sungguh-sungguh berpihak padanya malam itu, tidak
ada sedikit pun keributan malam itu. Hatinya tenang.
“Ya Ampun bebey. Itu tangan kamu
kenapa siy” tanya Erick, rupanya dia baru melihat sayatan di perelangan tangan
achie. Telonjak achie terkejut dengan
pertanyaan tersebut
“Bego lo chie, bagaimana bisa lo lupa
nyembunyiin luka ini sih” umpatnya memaki diri sendiri.
“Engga… Ga luka kok… ga papa”
sambungnya lalu menyembunyikan kedua pergelangan tangannya. Jantungnya berdegup
kencang, seketika ia di selimuti ketakutan yang amat sangat, ia hanya tak mau
hal sepele ini menjadi bahan keributan lagi di malam itu.
“You lie!! Sini aku liat”
“Engga.. Ga papa kok.. ga ada apa..”
Erick berdiri dari kursinya,
menghampiri dan menarik tangannya, sementara achie berusaha sekuat tenaga
menghindar.
“siniin tangan kamu, atau aku marah” sambung
Erick, ragu ia ulurkan tangannya.
“maaf bebey, tapi ini ga papa kok
sungguh”, Erick mengusap sayatan di pergelangan tangan wanita tersebut, dan menggeleng ia, menatap dengan tatapan kecewa. Entah ia kecewa
pada dirinya, atau kecewa pada Wanita dihadapanya tersebut.
“Jangan gini donk bey. Kok kamu jadi
gini siy??” katanya seakan sedih.
“iyah.. engga lagi, aku juga ga tau
kenapa ini bisa kumat lagi”
“pake apa kamu bikin ini semua??”
“pisau alis, pisau roti sama garpu”
jawab achie lemah takut-takut”
“mana pisau alisnya??” sambung Erick
lagi
“itu di tempat sendok di kolong meja
makan” kemudian Erick berdiri, berjalan menuju tempat sendok, mencari pisau alis tersebut dan mengambilnya.
“aku buang yah bey?? Aku ga mau kamu
gini-gini lagi” achie pun hanya bisa mengangguk lemah, ia tak merasa punya
pilihan saat itu, yang ia bisa hanya memandangi Erick membuang pisau alis saksi
kesedihannya itu jatuh di tempat sampah dapur. Kemudian Erick menghampirinya
kemudian memeluknya. Achie memejamkan matanya, ia hirup dalam-dalam aroma tubuh
suami yang memeluknya tersebut. Sedetikpun ia tak mau membuang kesempatan yang
sangat sempit itu. Air matanya tergenang. Ternyata achie memang sangat
merindukan laki-laki yang sedang memeluknya sangat erat itu.
“kamu sudah makan??” lanjut Erick
mengusik khusyuknya achie menikmati pelukan tersebut.
“belum… dari 3 hari kemarin juga aku
belum makan ama sekali” jawabnya lemah, dan mendadak seolah mendapat
kesempatan, gembel di perut achie pun kembali berdemo.
“Yah ampun… bebey” ujarnya sedikit
tinggi nadanyan. Kemudian memandang achie, dengan kesal.
“makan yah…” sambungnya dan di jawab
oleh achie hanya dengan gelengan lemah. Perutnya sakit, tapi sungguh pun ia tak
sanggup untuk makan.
“makan!! Aku ambilin” kemudian
berjalan Erick ke arah ricecooker.
“nasinya ga ada bey, berasnya Cuma
cukup buat makan satu orang, dan itu udah buat kamu td pagi sama makan
malam barusan” jawab achie takut-takut.
“kamu kenapa ga bilang siy kalo ga ada beras?” timpalnya, dan achie hanya diam.
“yah klo lo lagi ga singit siy gwe
berani mintanya, ini khan g salah ngomog sedikit, jatohnya bisa tusuk-tusukan”
batinnya
“aku telp. Heri kamu makan yah” ujar Erick menawarkan, dan hanya di
jawab dengan anggukan lemah oleh achie saat itu, ia ingin menolak tapi sakit
dan perih di perutnya menguasai alam bawah sadarnya agar mengangguk.
Tak lama kemudian tukang nasi goreng
langganan mereka datang, Erick memesakan makanan untuk achie, sementara di
dalam rumah achie sibuk mencubiti dirinya sendiri, ia ingin memastikan bahwa dia tidak sedang bermimpi. Bahwa apa yang terjadi barusan adalah sebuah hal nyata.
Ada bahagia di dalam hatinya, meski ia juga tak dapat menyingkirkan rasa
ketakutan yang masih begitu besar. Ia takut ini hanya sementara.
“nih bey, makan yah” kata laki-laki
tersebut seraya menyodorkan sepiring penuh nasi goreng.
“don’t wont” jawabnya mencoba
bermanja kembali pada laki-laki tersebut seperti sebelum terjadinya keributan
demi keributan di rumahnya. Erick mendekatkan wajahnya ke wajah achie, lalu
mencium keningnya, membelai rambutnya.
“makan lah, habisin yah bey” rayunya
pelan agar supaya achie mau makan.
“tp lihat nih, perutku sudah rata,
tiga hari ga makan sama sekali” canda achie sembari memperlihatkan perutnya
yang sugguh terlihat perbedaanya, kala itu perut achie memang sungguh-sungguh rata.
“ya tapi tetep harus makan lah, masa ga
makan” jawab Erick singkat
“udah cepet makan, aku sudah mulai ngantuk” lanjutnya. Di warning dengan perkataan ngatuk, achie mendadak panik dan kemudian bergegas ia menyantap nasi goreng di hadapannya, agar supaya tak membuang waktu istirahat pria tersebut.
.... The Untold Story #part.6...
10 menit achie selesaikan makanya, bangkit berdiri membereskan semuanya