iniblognyachie

Thursday, March 23, 2017

The Untold Story #part. 5



limbung ia membereskan semua bekas makanan di hadapannya
... The Untold Story #part. 4...


SIAPA LAKI-LAKI YANG BERADA SATU ATAP DENGAN KU INI TUHAN??

“Tuhan, siapa laki-laki yang berada di bawah satu atap dengan ku saat ini Tuhan?? Dia bukan suamiku, lalu kau bawa kemana Suamiku Tuhan?? Aku mohon kembalikan suami ku Tuhan, Aku mohon kembalikan ERICK JONATHAN suami ku Tuhan” sebersit doa yang ia ucapkan kala itu, memohon dan terus memohon. Meminta dan terus meminta sang empuna jalan kehidupan untuk mengembalikan sesosok pria bernama ERICK JONATHAN kembali kesisinya, dan terus berharap bahwa bahteranya itu akan baik-baik saja.

**

            Esok paginya semua berjalan sama seperti biasa, tak satu detikpun waktu tersebut dapan mengalahkan kegesitan seorang achie, bak ibu rumah tangga yang sudah sangat khatam, ia memulai semua kegiatannya bahkan sebelum alarm di handphonenya berbunyi. Semua berjalan sama seperti kemarin, menyiapkan makanan, mebangunkan tuan besar, menyiapkan pakaian, manantinya di meja makan untuk sarapan.

Namun ada pemandangan yang sangat mengejutkan pagi itu, apa yang sudah achie siapkan di tempat tidur itulah yang Erick pakai. Di pandanginya seolah mimpi, sedikit berbuncah gembira hatinya, ini hari ketiga ia tak mau kalah dengan keadaan, paling tidak setelah selama ini tak di hargai pagi itu seleranya dalam menyiapkan pakaian sedikit di hargai oleh laki-laki tersebut.

“sangu atau engga??” tanyanya singkat

“boleh deh” jawab laki-laki itu tak kalah singkat.

Bergegas achie mengambil peralatan makan untuk Erick sarapan, dan setelah itu ia mempersiapkan bekal untuk di bawa Erick ke kantor.

“mau lagi minumnya, atau teh itu aja??”

“air putih juga boleh”

“es apa biasa??”

“air kulkas aja”

Percakapan yang lumayan stabil pagi itu, seolah tidak terjadi apa-apa malam sebelumnya. Setelah selesai Erick bersiap, dan achie mengantarkannya ke depan pintu untuk melepasnya pergi ke kantor, sama seperti 2 hari kemarin. Di ulurkan tas kecil Erick, setelah Erick selesai mengenakan sepatu.

“aku berangkat dulu bey. Kamu tidur lah sebentar, jangan ga tidur terus nanti sakit” pamitnya, sembari memberikan pelukan, mengecup bibir achie 3 kali, lalu mengecup kening achie. Ritual berangkat kerja yang 2 hari ini hilang pagi itu kembali mewarnai pagi hari mereka. Di tatapnya laki-laki tersebut, terus di tatapnya sampai berlalu dan hilang di pagar kompleks mereka. Tak terasa setetes air mata menetes di pipi gadis yang memiliki sedikit darah ambon ini, masih tak percaya apa yang baru saja terjadi, seolah mimpi, setelah keributan yang terjadi tadi malam, kemudian pagi itu hal seindah itu yang terjadi. Sungguh hal yang di luar akal sehat achie. Cukup bahagia ia pagi itu.

“meskipun hanya karena iba, tak apalah yah, yang terpenting pagi ini ga ada keramean” batinnya. Kemudian ia bersiap menaiki anak tangga setelah menuliskan secarik pesan untuk mba titin, agar supaya mba titin tidak perlu membangunkannya hanya untuk menayakan masak apa hari ini. Kemudian setelah beberes, mengganti pakaian tidurnya dengan yang bersih, menelan obat sakit kepalanya, di hempaskan badannya di kasur di sisi biasa Erick biasa tidur, di hirup dalam-dalam aroma yang menempel di kasur, bantal, guling dan selimut bagian itu. Ya achie merindukan suamiya. Achie merindukan aroma tubuh laki-laki yang lima tahun ini selalu ia hirup sebelum dan ketika ia membuka matanya setiap hari, aroma yang setidaknya sebulan ini tidak lagi ia hirup. Dan tak lama setelah mengirim pesan singkat kepada Erick bahwa ia minta ijin untuk tidur sebentar karena sakit kepala yang teramat sangat, kesadarannya pun hilang di telan kelelahan yang teramat sangat. Achie tertidur dengan senyum di bibirnya.

**

08.15 kala itu, achie mulai gelisah seperti biasa, seperti hari kemarin, tetap tak juga ada kabar berita, meski sudah mulai terbiasa, namun tetap tak bisa ia tutupin, ia gelisah.

“Tuhan, tadi pagi susah baik-baik saja, jangan ada apa-apa lagi malam ini Tuhan… Boleh??” rayunya kepada Tuhan.

Di nyalakan tv di hadapanya, mencoba ia menikmati tayangan “Dangdut Academy” kala itu, sekuat tenaga ia mencoba untuk santai, seolah semua berjalan seperti biasanya. Namun telinganya tak lepas dari suara-suara di luar pintu rumahnya, lagi tak mau ia kalah dengan apapun demi perjuangannya. di rebahkan tubuhnya di karpet depan tv tempat biasa dimana ia selalu tiduran menanti Erick pulang, dirasakan kesakitan yang amat sangat di sekujur badannya, hadiah dari ketegangan dan kurang istirahatnya beberapa hari ini. Luka goresan di pergelangan tangannya pun tak kalah perih.

10.35 jam kala itu, hampir achie hilang kesadarannya karena kantuk yang sungguh amat sangat. Sayup kembali ia dengar suara motor yang sangat familiar memasuki garasi rumahnya, lompat achie menuju pintu, dirapikan baju dan rambutnya, di siapkan senyuman terbaiknya demi menyambut suaminya yang beranjak kembali pulang, kemudian ia membukakan pintu.

“maaf bey aku kemaleman, tadi kerumah mami dulu, ada yang di urusin, maaf ga ngabarin kamu hp ku mati, powerbank aku kosong, aku juga ga bawa kabel charger” alasannya panjang, sembari memberikan tasnya kepada achie, mengecup kening achie, mengecup bibirnya 3 kali dan kemudian masuk kedalam rumah mengikuti achie.

“iya ga papa” senyum achie merekah seindah bunga sakura yang bermekaran. Sambil menyodorkan segelas air dingin. Lalu berlalu mengambil piring, untuk menyiapkan makan malam saat itu.

“aku mandi dulu yah, gerah banget” pamit Erick dan berlalu tanpa sempat achie menjawab.

“Terimakasih Tuhan. Biarkan ini baik-baik saja sampai besok pagi. Cukup Tuhan aku lelah, aku ingin istirahat semalem saja.” Batinnya. Dan kemudian semua berjalan baik-baik saja, obrolan hangat di meja makan malam itu, sungguh di luar kepercayaan achie, Tuhan dan dewi fortuna sungguh-sungguh berpihak padanya malam itu, tidak ada sedikit pun keributan malam itu. Hatinya tenang.

“Ya Ampun bebey. Itu tangan kamu kenapa siy” tanya Erick, rupanya dia baru melihat sayatan di perelangan tangan achie. Telonjak achie terkejut dengan pertanyaan tersebut

“Bego lo chie, bagaimana bisa lo lupa nyembunyiin luka ini sih” umpatnya memaki diri sendiri.

“Engga… Ga luka kok… ga papa” sambungnya lalu menyembunyikan kedua pergelangan tangannya. Jantungnya berdegup kencang, seketika ia di selimuti ketakutan yang amat sangat, ia hanya tak mau hal sepele ini menjadi bahan keributan lagi di malam itu.

“You lie!! Sini aku liat”

“Engga.. Ga papa kok.. ga ada apa..”

Erick berdiri dari kursinya, menghampiri dan menarik tangannya, sementara achie berusaha sekuat tenaga menghindar.

“siniin tangan kamu, atau aku marah” sambung Erick, ragu ia ulurkan tangannya.

“maaf bebey, tapi ini ga papa kok sungguh”, Erick mengusap sayatan di pergelangan tangan wanita tersebut, dan menggeleng ia, menatap dengan tatapan kecewa. Entah ia kecewa pada dirinya, atau kecewa pada Wanita dihadapanya tersebut.

“Jangan gini donk bey. Kok kamu jadi gini siy??” katanya seakan sedih.

“iyah.. engga lagi, aku juga ga tau kenapa ini bisa kumat lagi”

“pake apa kamu bikin ini semua??”

“pisau alis, pisau roti sama garpu” jawab achie lemah takut-takut”

“mana pisau alisnya??” sambung Erick lagi

“itu di tempat sendok di kolong meja makan” kemudian Erick berdiri, berjalan menuju tempat sendok, mencari pisau alis tersebut dan mengambilnya.

“aku buang yah bey?? Aku ga mau kamu gini-gini lagi” achie pun hanya bisa mengangguk lemah, ia tak merasa punya pilihan saat itu, yang ia bisa hanya memandangi Erick membuang pisau alis saksi kesedihannya itu jatuh di tempat sampah dapur. Kemudian Erick menghampirinya kemudian memeluknya. Achie memejamkan matanya, ia hirup dalam-dalam aroma tubuh suami yang memeluknya tersebut. Sedetikpun ia tak mau membuang kesempatan yang sangat sempit itu. Air matanya tergenang. Ternyata achie memang sangat merindukan laki-laki yang sedang memeluknya sangat erat itu.

“kamu sudah makan??” lanjut Erick mengusik khusyuknya achie menikmati pelukan tersebut.

“belum… dari 3 hari kemarin juga aku belum makan ama sekali” jawabnya lemah, dan mendadak seolah mendapat kesempatan, gembel di perut achie pun kembali berdemo.

“Yah ampun… bebey” ujarnya sedikit tinggi nadanyan. Kemudian memandang achie, dengan kesal.

“makan yah…” sambungnya dan di jawab oleh achie hanya dengan gelengan lemah. Perutnya sakit, tapi sungguh pun ia tak sanggup untuk makan.

“makan!! Aku ambilin” kemudian berjalan Erick ke arah ricecooker.

“nasinya ga ada bey, berasnya Cuma cukup buat makan satu orang, dan itu udah buat kamu td pagi sama makan malam barusan” jawab achie takut-takut.

 “kamu kenapa ga bilang siy kalo ga ada beras?” timpalnya, dan achie hanya diam.


“yah klo lo lagi ga singit siy gwe berani mintanya, ini khan g salah ngomog sedikit, jatohnya bisa tusuk-tusukan” batinnya

“aku telp. Heri kamu  makan yah” ujar Erick menawarkan, dan hanya di jawab dengan anggukan lemah oleh achie saat itu, ia ingin menolak tapi sakit dan perih di perutnya menguasai alam bawah sadarnya agar mengangguk.

Tak lama kemudian tukang nasi goreng langganan mereka datang, Erick memesakan makanan untuk achie, sementara di dalam rumah achie sibuk mencubiti dirinya sendiri, ia ingin memastikan bahwa dia tidak sedang bermimpi. Bahwa apa yang terjadi barusan adalah sebuah hal nyata. Ada bahagia di dalam hatinya, meski ia juga tak dapat menyingkirkan rasa ketakutan yang masih begitu besar. Ia takut ini hanya sementara.

“nih bey, makan yah” kata laki-laki tersebut seraya menyodorkan sepiring penuh nasi goreng.

“don’t wont” jawabnya mencoba bermanja kembali pada laki-laki tersebut seperti sebelum terjadinya keributan demi keributan di rumahnya. Erick mendekatkan wajahnya ke wajah achie, lalu mencium keningnya, membelai rambutnya.

“makan lah, habisin yah bey” rayunya pelan agar supaya achie mau makan.

“tp lihat nih, perutku sudah rata, tiga hari ga makan sama sekali” canda achie sembari memperlihatkan perutnya yang sugguh terlihat perbedaanya, kala itu perut achie memang sungguh-sungguh rata.

“ya tapi tetep harus makan lah, masa ga makan” jawab Erick singkat

“udah cepet makan, aku sudah mulai ngantuk” lanjutnya. Di warning dengan perkataan ngatuk, achie mendadak panik dan kemudian bergegas ia menyantap nasi goreng di hadapannya, agar supaya tak membuang waktu istirahat pria tersebut.

.... The Untold Story #part.6...
10 menit achie selesaikan makanya, bangkit berdiri membereskan semuanya

The Untold Story #part. 4


“ya lo juga apa pernah peduli perasaan gue di rumah nyokap bokap lo, yang seperti ga pernah di anggap” debatnya
... The Untold Story #part.3...


LAKI-LAKI ITU BERNAMA ERICK JONATHAN


“ga pernah di anggap bagian mananya siy??” Achie semakin terpancing emosinya

“ya lo bayangin aja, tiap kali kita dateng, bapak lo selalu nuduh gue klo gue selalu melarang lo untuk kerumahnya, bapak lo selalu nuduh gue yang ngelarang lo untuk nengokin dia” berhenti sebentar laki-laki itu berbicara, sembari menatap kearah wanita di hadapannya dengan penuh kebencian.

“dan pas mau pulang, dia selalu bilang klo pasti gue yang ngajakin lo cepet-cepet, pulang. Belum lagi ibu lo yang selalu setiap kita dateng dia selalu langsung masuk kamar, kaya ga peduli dan ga suka klo gue dateng ngaterin anaknya” katanya panjang menyanggah jawaban achie yang terakhir.

Kala itu habis sudah kesabaran seorang achie, luluh lantah di telah jawaban laki-laki di hadapannya, sudah tak peduli lagi achie dengan apa yang sudah di pertahankannya dari tiga hari kemarin, emosinya membuncah, begitu ia mendengar orang menilai jelek tentang papanya, baginya semua orang boleh menginjak-ijak kepalanya, tapi jangan pernah orang lain menyenggol papanya, bahkan seujung kku saja berani, menyenggol papanya maka manusia itu akan berurusan hidup dan mati dengan dirinya.

Perlahan achie bangkit dari kursinya, bergeser sedikit berdiri tegak di hadapan laki-laki yang sudah mulai menginjak papanya tersebut. Membungkuk ia menyamakan letak bibirnya di telinga laki-laki tersebut, lalu di bisikkannya pelan

“tapi setiap kali papa ku mengatakan hal itu, aku selalu bisa dengan lantang membela kamu khan?? Tapi setiap mama marah sama kamu, aku selalu bisa khan membela kamu, sampai aku yang akhirnya harus ribut sama mama?? Sekarang bilang kapan aku ga pernah ngebela kamu mati-matian di depan Papa.. di depan Mama?? Sekarang bilang kapan aku ga pernah ngebela kamu mati-matian di depan semua orang?? Liat mata aku, dan jawab!! Teriaknya satu jengkal dari telinga laki-laki tersebut, dan membuat badan laki-laki tersebut terguncang kaget.

Kapan aku tidak pernah bisa membela kamu di depan semua orang?? Dan pernah kamu bisa membela aku di depan orang lain?? Ga usah lah di depan orang lain, hal sesimpel kamu membela aku di depan mami kamu saja apa bisa?? Tantangnya dengan nada tinggi dan suara yang memekakkan telinga, sungguh tak dapat lagi achie menguasai emosinya, giginya gemeretak mengikuti amarahnya kala itu.

“gue ga pernah membela lo??” potong laki-laki tersebut sebelum achie kembali melanjutkan kata-katanya.

“lo ga pernah tau aja, sejak lo ga pernah mau ikut gue kerumah mami”

“Ga pernah mau?? Koreksi tolong” lantang achie memotong pernyataan tersebut

“ya apalah kata-katanya, yang pasti setiap kali lo ga mau ikut ke rumah mami, gue selalu ngebelain lo di depan mami, yang gue bilang lo sakit lah, atau bikin kue lah, atau apalah, apa lo tau itu?? Cerocosnya panjang tak kalah tinggi dan nyaring.

“jelas aku ga pernah tau, kamu ga pernah melakukan di depan aku, seperti aku selalu bisa ngebelain kamu secara langsung di depan muka kamu kok, gimana aku mau tau?? Yang aku tau, tiap kali aku minta pembelaan mu di depan mami mu, kamu ga pernah bisa ngebelain aku” lantang katanya, tak bergeser sedikitpun dari posisi berdirinya, matanya lekat menatap laki-laki tersebut seolah achie sengaja menantang

“biarlah, jika malam ini harus sampai tusuk-tusukan, demi membela papa, aku ihklas mati’ ujarnya dalam hati.

“ga pernah bisa ngebelain lo secara langsung gimana maksud lo??” jawab laki-laki itu seolah tak percaya achie bisa membalikan pernyataannya dengan cukup cepat dan tanpa berfikir.

“inget pada saat gwe selesai di babtis beberapa tahun yang lalu, dengan entengnya nyokap lo itu ngomong kesemua orang yang di kenalnya, dan di temui nya, klo gwe itu harusnya belum boleh di babtis, karena jarang ikutan pelajaran??” lantang achie menjawab, di lihatnya tajam mata laki-laki itu, yang terbelalak terkejut mendengarkan lantang jawabanya.

“apa pernah lo tau perasaan gwe saat itu?? Apa pernah lo tau?? GA!! Jawabnya setengah mati menahan emosinya, 

"Dan penyataan mami lo itu terus di ulang di mobil, saat kita mau pergi makan di tempat yang jauh itu. “belum sah di babtis dia ini, karena kelasnya ga komplit” kata mami lo begitu dan lo inget ga jawaban lo apa saat itu??” lo inget ga?? JAWAB!!" Teriaknya tak kalah kencang dari jeritan pertamanya tadi, seolah tak peduli bahwa manusia satu kompleks pun bisa terbangun karena jeritannya. Dan semakin lantang membeberkan hal yang terjadi, laki-laki di hadapannya semakin tak percaya bahkan hal sedetail itu pun achie masih sanggup mengingatnya.

“saat itu kamu menjawab dengan lantang “ya nanti ikutan lagi katekisasi di pondok indah” ucapnya menirukan jawaban dari laki-laki tersebut kala terjadinya kejadian itu beberapa tahun silam.

“kamu pernah tau ga, sebesar apa harapan aku, kamu ngebelain aku di depan mami kamu, saat itu?? Pernah tau ga?? ‘GA’ “kamu pernah tau ga perasaan aku saat denger kamu dengan lantang ngejawab pernyataan mami mu itu, dengan jawaban mu kala itu?? Pernah tau ga?? ‘GA’ “ jawabnya tak gentar.

“ingat waktu itu kamu juga ga bisa belain aku di depan mami kamu, soal id line* aku yang mendadak hilang?? padahal kamu tau persis kejadian hilangnya id line aku itu?? Ingat ga?? Klo ga ingat biar aku ingatkan detailnya??” laki-laki itu hanya diam, bukan berusaha mengingat, tapi tak percaya achie bisa memiliki jawaban selantang itu, bahkan hal itu bisa achie tangkap dari sorot mata pria di hadapannya

“biar aku ingatkan detailnya yah” ditariknya muka laki-laki di hadapannya, dia tolehkan kearahnya, lalu perlahan ia kembali beberkan penjelasannya.

“kala itu handphone ku rusak, hang, kejadiannya di hadapan kamu, mendadak id line aku hilang, dan aku dengan sangat terpaksa membuat id line baru. Kamu tau, bahkan sangat nyata dan tau kejadian itu, beberapa hari kemudian kita kerumah mami mu, waktu itu rumah mami mu masih di madrasah, lalu mami mu nyindir aku dengan “ada yang ngambek trus line mami di hapus” ujarnya dengan kembali menirukan kata-kata mertuanya kala itu.

“saat itu aku jawab “engga di hapus, handphone aku beneran error, hang dan begitu nyala semua aplikasi hilang, dan linenya juga hilang, yah khan bey” bahkan dengan penuh harap aku meminta kamu membela aku saat itu, karena memang kamu tau kejadiannya” ulangnya mereka ulang kejadian dengan sangat runut, matanya tak sedetikpun lepas dari pria di hadapannya.

“dan kamu ingat ga jawab mu saat itu??” menghela nafas panjang, seakan memberi waktu untuk laki-laki itu mengingat, agar bisa memberi jawaban pertanyaannya saat itu. Namun laki-laki itu tetap tak bergeming. “kamu ingat ga apa yang menjadi jawaban kamu?? JAWAB!! Bentaknya. Laki-laki itu menarik wajahnya dan menunduk, entah apa yang ada di pikirannya saat itu, sementara mata achie tetap menatap dengan tatapan menantang. Tangannya mengerat meremas sandaran kursi makan, yang laki-laki itu duduki.

“mau tau jawaban mu saat itu” di cibirkannya bibirnya merasa menang kala itu, di angkat badannya, di tarik kursi di hadapannya, di ambilnya dan di bakarnya sebatang rokok, di tiupkan asapnya kewajah laki-laki tersebut, seolah sengaja memancing amarah laki-laki tersebut

“jawaban mu saat itu, kembali dengan lantang kamu bilang “engga tau deh” itu jawaban mu saat itu, mematahkan alesan aku di depan mami mu saat itu, yang dimana kamu tau persis kok kejadiaannya, Kamu tau ga kalo saat itu aku berharap untuk pertama kalinya aku minta kamu belain aku di depan mami mu secara nyata di depan mata ku, kamu tau ga?? ‘GA’ “kamu tau ga apa dan bagaimana perasaan aku saat itu kamu mejawab pertanyaan mami kamu itu dengan jawaban seperti itu?? ‘TIDAK’ “ jelasnya panjang. Tak berjeda sedikitpun.

“dan sekarang kamu minta aku percaya kalo di belakang aku, kamu bisa dan sanggup membela aku di depan mami mu?? jelaskan ke aku bagaimana aku harus percaya Erick Jonathan” berteriak sangat nyaring, perlahan di gelengkan kepalanya, seolah tak percaya ia bisa memberikan jawaban yang sebegitu panjangnya. Ac di ruangan itu nampaknya tak mampu mendinginkan suasana hatinya, yang bak di injak-injak dengan alasan sepele laki-laki tersebut.

“bisa ga kamu kasih tau aku, bagaimana caranya aku tau kalau omongan kamu, tentang kamu ngebelain aku di depan mami mu itu, adalah hal yang sunggu-sungguh kamu lakukan?? Lanjutnya ter engah.

“nih gwe telp mami, lo bisa tanya sendiri tentang hal itu” jawab pria itu singit

“heh!! Lo pikir gwe bodoh, klo gwe tanyain hal itu ke mami lo, sudah sangat pasti mami lo ngebelai lo lah. Jawabnya mematah kan.

“Soal nyuntik!!” sambungnya kali ini dengan nada yang cukup rendah dan volume yang pelan, sekuat tenaga achie menurutkan amarahnya malam itu, di lawannya sakit teramat sangat di kepala dan perutnya, di tahan pula emosinya yang semakin dam makin membuncah.

“berapa kali aku mau pergi sendiri, tapi kamu melarang aku?? Hitung berapa kali ERICK JONATHAN!!”

“sekali?? Dua kali?? Tiga kali?? Atau berkali-kali??” tanyanya perlahan, kemudian dia menanti Erick menjawab??

“ya memang, itu karena gwe menghindari mulut nyokap lo yang ga enak kalau pas gwe kebetulan nganteri lo!!” jawaban yang cukup membuat achie terkejut, sama sekali ia tak menyangka kalau laki-laki yang selama ini menjadi suaminya itu tidak pernah dengan ikhlas kala harus mengantarkan achie kerumah kedua orang tuanya, untuk membantu mamanya menyuntikan insulin ke Papanya. Ya Papa achie di vonis mengidap diabetes semenjak ia berada di kelas 2 smp, dan Papanya harus sudah ketergantungan pada insulin, sejak papanya memilih menjalani operasi mata, beberapa tahun silam, agar pandangannya jelas demi melihat wajah anak perempuan kebanggaannya tersebut di layar raksasa pada saat anak perempuannya itu di wisuda

“ya itu berarti”

“ya itu bukan berarti dengan seenak-enak jidat lo, lo maksa gwe untuk nganter lo, di jam-jam yang seharusnya guwe harus sudah tidur” lanjut Erick menyela debat nya.

“OK, FINE!! Klo emang itu mau lo, dan agar supaya jam tidur lo yang harus berkualitas itu ga terganggu, gwe pergi sendiri sekarang untuk nyuntik Papa!! Puas hidup lo?? Ujarnya kembali berteriak tak kala laki-laki itu kembali menyenggol perihal papanya.

“it’s okey klo lo mau gwe anterin, tapi setidaknya lo harusnya bisa”

“engga!! Udah GA usah. Dari pada lo bilang gwe  ga peduli sama lo, jadi biar mulai sekarang gwe berangkat sendiri untuk nyuntik papa!!” potongnya lagi-lagi sebelum Erick sempat menyelesaikan kalimat pembelaannya.

“lagi dari awal gwe bisa kemana-mana sendiri juga siapa yang ketakutan sendiri sih!!” lanjutnya terengah. Erick tak lagi sanggup mendebat perkataan achie di dini hari itu.

Kemudian keduanya terjebak di dalam keheningan, mata achie tak lepas memandangi wajah laki-laki di hadapannya, di pandanginya wajah laki-laki tersebut dalam dan semakin dalam. Asing bahkan semakin asing saja wajah yang seharusnya sudah sangat ia hapal luar kepala garis mukannya, di pandangi terus dan terus wajah itu, di pacu kembali ingatannya agar segera ia mengingat kembali siapa pria tersebut. Sebegitu asingnya sudah sesosok ERICK JONATHAN yang duduk di hadapannya tersebut. Di tahannya sakit di kepala dan perutnya yang bersaut-sautan. Di tahannya serangan vertigo yang sudah sedari tadi ia rasakan, kali ini achie sungguh tak mau kalah kalimat di dalam pertengkaran dini hari itu.

“trus ini yang lo biang lo mau berubah dan lo mau peduli tentang gue??” ucap Erick memecah keheningan. Achie mengerenyitkan dahinya tanda tak mengerti

“maksud lo??” jawabnya singkat

“lo tau besok guwe masih kerja, dan jam segini lo masih ngajakin debat, dan bukannya biarin guwe istirahat??

“koreksi!! Guwe ngajakin lo ribut?? Dari awal lo pulang tengah malem, dari awal gwe bukain lo pintu, gwe udah nyambut lo dengan senyum dan bertanya baik-baik, tapi lo ga jawab, malah ngeloyor naik untuk mandi” panjang jawabnya.

“dan lalu, lo makan dan ketika gwe bertanya dengan pertanyaan yang sama, dengan nada suara yang sangat baik-baik saja, siapa duluan yang menjawab dengan nada 7 oktaf lebih tinggi?? Dan kemudian lo bilang, guwe ngajakin lo ribut??

“gwe pusing, gwe tidur duluan.. besok harus lebih pagi karena gwe harus ngurus JHT, lo mau ikut tidur ga?? Jawabnya tak menjawab pertanyaan achie sama sekali, Achie bungkam, di pandanginya tajam laki-laki yang seolah sedang melarikan diri dari permasalahan mereka malam itu.

“yah lo memang selalu begini, terus begini dan tetap begini klo ada masalah” umpatnya dalam hati. Perlahan di gelengkan kepalanya menolak ajakan laki-laki tersebut.

“tidurlah tuan, kalau tuan mau tidur saya pembantu masih harus membereskan semua ini” sambungnya. Memang achie sengaja menjawabnya dengan jawaban tersebut, sengaja memang ia mau memancing keributan kala itu. Hatinya muak dengan semua keributan yang tidak pernah selesai.

Erick hanya memadang achie dengan cukup kesal karena jawaban itu, menggeleng dan kemudian berlalu dan naik menuju kamar mereka, meninggalkan achie yang tak satu detik pun pandangannya lepas dari sesosok laki-laki asing di dalam rumahnya tersebut.

Limbung ia membereskan semua bekas makanan di hadapannya, vertigo yang menyerang sedari tadi semakin parah menguasai kesadarannya kala itu. Bahkan vertigo itu sanggup mengalahkan para gembel yang berdemo di dalam perutnya karena hari ketiga sudah tak satu suap makanan pun yang ia konsumsi. Di pertahankan badannya untuk membereskan semua, dan mempersiapkan semua bahan yang akan di jadikan bahan masakan besok pagi. Setelah rapi semua, di rebahkan badannya, di pejamkan matanya, malam itu tak lagi ada air mata, seolah kering sudah air matanya setelah ia pakai menangis hampir sebulan ini.

“Tuhan, siapa laki-laki yang berada di bawah satu atap dengan ku saat ini Tuhan?? 
... The Untold Story #part. 5...

Thursday, March 16, 2017

The Untold Story #Part.3



"setidaknya perjuangan hari ini sudah aku lewati dengan sangat baik" Jeritnya senang dalam hati...
.... The Untold Story #part 2...


BERPACU DENGAN WAKTU


Sama dengan malam kemarin, tak bisa ia pejamkan kedua bola matanya, sejumlah ketakutan masih saja menggelayuti pikirannya, walau malam itu ada hati yang kembali melunak, meski mungkin dengan alasan iba, achie masih saja takut masih terlelap tidur dan mengagalkan apa yang sudah ia perjuangkan, sisi ruang batinnya yang lain sibuk merajut serpihan hatinya, otaknya tak henti berkelana pada masa lalu yang manis bersama laki-laki itu, sisi lain batinnya sibuk merangkai apa-apa saja yang mau ia lakukan untuk trus bersama laki-laki ini, hatinya galau meski matanya tak lagi di genangi oleh air mata.

Tepat pukul 5.45 pagi itu ia mulai sibuk di dapur, sembari menahan sakit di kepalanya yang amat sangat, buah hasil dari raga dan pikirannya yang tak kunjung ia beri waktu untuk istirahat. Lauk demi lauk ia siapkan dengan penuh kasih harapan dan doa. Terus ia berpacu dengan waktu kala itu, sungguh-sungguh ia tak ingin kalah barang sedetik pun bahkan harus jauh lebih baik dari hari kemarin niat yang ada di otaknya. Pagi itu tak hanya nyeri kepala dan waktu yang harus ia taklukkan, namun rasa perih perutnya pun ia harus kalahkan, diingatnya kapan terakhir perutnya mendapat asupan makanan, yang ternyata sudah dua hari ia tak makan sama sekali, perutnya hanya terisi teh hangat dan air putih saja. Namun tak apa pikirnya dalam hati, ia anggap ini bagian dari perjuangannya, akal sehatnya hilang begitu saja di telan semua pikiran tentang rumah tangganya.

Kembali terdengar sayup bunyi alarm laki-laki itu, bergegas ia lari menuju kamarnya, kamar yang sudah dua hari ini nyaris tak ia sentuh, semata karena ia takut. Ya…. Ia takut kalah jika terlelap nyaman di kamar itu.

“bey… jam 6.00… kamu ga bangun??” ujarnya membangunkan,

“ya… 5 menit” jawab laki-laki tersebut membalikkan badannya, terpaku achie di depan pintu, untuk menanti 5 menit itu datang, tak sedetikpun ia bergeming di tempatnya, bahkan 5 menit itu sungguh berlalu dengan cepatnya, tak di rasakannya 15 menit sudah ia terpaku berdiri menatap laki-laki itu tertidur.

“Bey… 6.15… nanti terlambat… ayo bangun”

“aaarrrrgggghhhhh….” Jawab laki-laki itu nampak kesal, seolah murka nyenyaknya terganggu oleh suara perempuan yang sedari tadi terpaku, hanya untuk tidak terlambat membangunkannya, lalu dengan kesal laki-laki itu masuk dan membanting pintu kamar mandi. Setetes lagi air mata tertumpah di pagi hari itu, tak menyangka niatnya yang begitu tulus, di hargai dengan hempasan pintu.

“apa lagi ini Tuhan??” tanyanya berbisik, namun ia acuhkan perasaannya. Sama seperti hari kemarin, kembali di siapkan pakaian kerja laki-laki tersebut, berat ia hembuskan nafasnya, seolah tau kejadian kemarin pagi akan terulang lagi, namun tetap ia susun rapi di kasur segala pakaian tersebut. Setelahnya bergegas kembali ia dengan kesibukannya di dapur sama seperti pagi kemarin. Di jejernya semua lauk-lauk seadanya di meja makan, di seduhnya teh hangat, di letakkannya di sisi di mana laki-laki tersebut biasa duduk, tak lama laki-laki itu pun turun dan benar sekali lagi ia menghancurkan harapan achie pagi itu. Perih hanya itu yang achie rasakan, namun di tepisnya rasa itu kemudian cepat ia ambilkan air minum dan nasi untuk laki-laki itu.

“makan yang buat di bawa ke kantor aja” ucap laki-laki itu, 

“loh kenapa?? Trus yang buat sarapan ini, mau di masukin tempat makan??”

“gak usah, males bawa-bawa sangu ke kantor” jawabnya ketus melukai hatinya, di pejamkannya matanya, setetes lagi air mata tumpah pagi itu, usahanya dari sebelum subuh di acuhkan begitu saja oleh laki-laki ini, kembali di sampingkan perasaan sedihnya, baginya mungkin ini ujian berikutnya, laki-laki ini hanya ingin menguji, sebesar apa achie ingin berubah.

“nanti di kantor makan apa??” jawabnya berusaha tegar,

“kemarin sih kenyang sampe sore, karena paginya sarapan” jawab pria tersebut singkat lalu kembali dengan sarapannya. Achie hanya mengangguk lemah, dan hanya bisa memandangi dalam-dalam laki-laki di hadapannya tersebut dengan harapan, tak ada lagi yang terlupa ketika ia berangkat nanti.

“aku berangkat… udah lumayan terlambat” kata laki-laki tersebut menyadarkannya dr lamunan, achie sodorkan tas kecil yang berada di belakanganya, di antarnya pria tersebut ke depan pintu, dengan harapan penuh. Namun hampa sekali lagi pagi itu harapannya berakhir sia-sia. Di kuatkan kakinya agar tak jatuh lagi seperti kemari, berusaha tegar dan tetap tak ingin dia kalah, sungguh-sungguh ia tak ingin kalah.

**

Berkali bahkan berpuluh kali di liriknya jam dinding di atas pintu rumahnya, sudah sangat jauh dari jam pulang kantor, namun tak ada juga tanda-tanda kepulangan laki-laki tersebut, berjuta kali di lirik ponselnya, barang kali ada sedikit kabar yang memberitahu tentang keberadaan pria tersebut saat ini, hatinya resah, panik bercampur kesal juga was-was, pikirannya tak karuan, apa kiranya yang sedang terjadi dengan pria ini, masih sebesar itu ke khawatiran yang ia punya, bahkan untuk laki-laki yang hampir sebulan ini tak mengaggapnya ada tersebut. Lauk-lauk yang terjejer rapi di meja makan terbut sudah berpuluh kali naik ke penggorengan untuk di panaskan, meski tak satu tetes pun berani achie menyentuh dan memakannya, seolah makanan tersebut haram untuknya.

Payah ia menanti dan terus menanti, ini sudah hampir tengah malam, tak juga ada kabar berita, berkali di carinya nama laki-laki itu di ponselnya namun tak juga tangannya tergerak untuk menekan tombol “call”, hatinya sangat ragu ia tak mau mengganggu seperti yang sudah-sudah, namun hatinya juga galau menantikan sesosok laki-laki tersebut sampai di rumah mereka dengan keadaan selamat. Tak kuasa mengendalikan alam bawah sadarnya, kembali goresan yang berbicara mewakili kekesalan hatinya, ia kesal tak sanggup mengalahkan akal sehat dan memenangkan egonya untuk menghubungi laki-laki tersebut, ia kesal tak sanggup mengalahkan ketakutannya hanya untuk sekedar bertanya keberadaan laki-laki tersebut. Sampai pada detik jam kesekian suara derungan motor yang memasuki garasi rumah mereka menyadarkan alam bawah sadarnya tersebut.

Berlari ia menuju pintu rumahnya, di sambutnya laki-laki tersebut dengan senyuman dan perih di pergelangan tangannya. Seperti biasa di raih tas kecil pria tersebut sembari menantikan sentuhan kecil di keningnya, yang hanya di jawab dengan senyuman kecut laki-laki tersebut,

“dari mana bey?? Malem banget?? Tanyanya menyelidik sembari berjalan mengambilkan air minum, dan sibuk menyembunyikan luka di pergelangannya. Tak ada jawaban, hanya berlalu menuju kamar mereka setelah meneguk setengah gelas minuman yang achie sodorkan padanya.

“apa lagi ini ya Tuhan??” ingin sekali ia jeritkan pertanyaan itu, namun ia tahan karena ia tau jeritan itu hanya akan merusak perjuangannya. Sabar ia menanti dan menyiapkan kalau-kalau laki-laki itu akan makan sehabis mandi. dan tak lama laki-laki itu pun turun, duduk di sisi yang biasa dan selalu menjadi singgah sananya, mengisi piring nasi yang sudah achie siapkan dengan lauk kemudian mulai menikmatinya. Lalu mereka tercekam dalam kebisuan yang tak kalah tegang seperti malam kemarin.

“jadi dari mana?? Kenapa ga ada kabarnya sampe semalem ini??” tanya yang penuh keraguan itu keluar dr mulut achie
“apa masih perlu gwe cerita?? Lo khan udah ga mau tau tentang kerjaan gwe… kemaren waktu gwe cerita kalo guwe lagi ngurus JHT* aja lo Cuma jawab ‘WOW’ khan?? Jadi yah buat apalah gwe cerita detailnya ke lo” jawaban cukup panjang yang menambah rentetan sakit hati dan seolah menghantamkan hatinya sekali lagi di dasar laut terdalam, di palingkan mukanya ke arah laki-laki tersebut, di sematkan senyuman manis di wajahnya, seolah jawaban yang keluar dari mulut laki-laki di hadapnya tersebut memuaskan hatinya.

“kok gitu?? Aku khan...”

“iya lo tuh emang gitu, sama sekali ga pernah peduli” potongnya sebelum sempat achie menyelesaikan pernyataannya tersebut, achie menarik nafas dalam, mengatur emosinya, menahan air matanya.

“loh, aku tuh kemaren jawab begitu, Cuma karena aku ga paham mau jawab apa, dan yah baru kala itu juga khan aku jawab dengan sekenanya begitu, yang udah-udah apa pernah??” jawabnya panjang menerangkan dengan nada yang sangat ia jaga agar tidak meninggi seperti sebelum-sebelumnya, biarlah saat ini dia kalah pikirnya.

“ya jawab apa kek, gimana kek, yang pasti jawaban “WOW’ itu cukup ngebuat apa yang lagi gwe perjuangin tuh kya lo anggap ga ada apa-apanya.

“singkat siy itu jawaban, tapi cukup nusuk di hati gwe, dan nyakitin hati gwe!” nadanya tinggi, dan hal itu semakin menggurat hati perempuan yang ada di hadapannya, kemana rasa iba yang kemarin hadir di tengah hatinya, dan sempat membawa kembali pelukan singkat itu pulang, kemarin malam?? Tanyanya dalam hati, bingung setengah mati.

“ya kalo aku ga peduli siy aku ga bakal nanya kamu kemana sampai semalam ini siy, ka...”

“ya itu khan setelah gwe protes, selama ini sebelum gwe protes emang lo pernah peduli?? Kayanya engga yah?? Yang lo peduliin khan cuma diri lo doang” sanggah laki-laki itu memotong, bahkan sebelum achie menyempurnakan pernyataannya, seolah sengaja memacing keributan, seolah memancing kesabaran wanita lawan bicaranya tersebut untuk segera habis, dan meladeni pertengkaran di tengah malam tersebut.

“aku?? Aku ga penah peduli?? Aku yang ga perah peduli apa gimana sih maksud kamu?? Jelasin bagian mana dari sikapku selama ini yang membuat kamu bisa segampang itu menyimpulkan kalo aku ga pernah peduli tentang kamu dan rumah tangga ini??” selorohnya panjang, setengah mati ia tekan nada suara dan kesabarannya, seolah tak terpancing emosinya oleh laki-laki di hadapannya ini, jantungnya berdegup begitu kencang dan semakin kencang seperti ia habis lari marathon sekian ratus kilo meter, masih sempat di sunggingkan tawa di bibirnya yang bergetar menahan amarah.

“di tawarin kerja, di terima tapi di suruh hal yang sesimple buka anting yang di atas aja bahkan lo ga mau, padahal lo tau gue sudah mati-matian nyari nafkan untuk keluarga lo juga, itu yang lo bilang lo peduli” jawabnya tinggi, membuat achie membelalakkan matanya tak percaya

“hal segampang lo ngikut ke rumah nyokap gue, aja lo selalu banyak alesan, sementara lo selalu maksa gue untuk nganterin gue kerumah bokap lo untuk nyuntik, di jam-jam gue istirahat, tanpa lo peduli klo gue juga perlu istirahat, itu yang lo bilang lo peduli sama gue??”  terusnya lagi, tanpa memberi jeda waku buat achie untuk memberi sanggahan.

“di saat gue udah ngantuk, kita udah di tempat tidur, dan lo masih berulah rewel apa lo pernah tau kepala gue sering pusing nahan ngantuk, hanya untuk ngeladenin kerewelan lo itu?? Itu yang lo bilang lo peduli dengan keadaan gue??” achie semakin tertegun dengan rentetan jawaban yang laki-laki ini paparkan sebagai alasan kemarahannya saat ini. Semua hal yang sesungguhnya pernah di bahas sebelum pertengkaran dini hari itu

“okey, ijinkan gue jawab semua pernyataan lo itu yah” jawabnya menahan emosi yang berkecamuk di dadanya.

“soal kerjaan yang kemarin aku di terima itu, bukannya aku udah bicarain sama kamu yah, bahkan klo ga salah aku pun marah-marahnya di depan kamu, bahkan kamu juga ikutan mendikte aku bicara ke adiek jawaban apa yang harus aku bales di chat aku sama adiek saat itu, dan saat itu masih sangat jelas di ingetan aku kalo lantang kamu bilang “aku sih ga maksa kamu untuk kerja, aku ga pingin kamu kerja, tapi kalo kamu mau mencoba ya coba dulu aja” jawabnya sembari menirukan sepotong kalimat dari laki-laki tersebut kala itu.

“ya apa salah kalo aku menyimpulkan, kalo it’s fine aku tolak kerjaan itu” sambungnya lagi, matanya tajam menatap laki-laki yang tak sedikitpun menatapnya kala bicara

“kerumah mami, hitung berapa banyak aku ga mau ikut kerumah mami mu ketimbang aku mau ikutnya, meskipun jujur ‘YA’ aku sedikit berat, tapi aku kalahkan semua itu. Dan please kamu ingat apa pernah kamu tanyakan apa penyebabnya aku sedikit berat ke rumah mami mu?? Ga pernah khan?? Apa, bagaimana perasaan ku sesampainya di rumah mami mu, aku hanya di suruh namatin gamenya, ngutak ngatik handphone yang aku ga ngerti sama sekali, dan klo aku ga bisa  aku dipayah-payahin, sementara kamu di biarkan aja tidur, makan atau apalah” jawabnya panjang, terengah-engah dia menyelesaikan satu bait jawaban itu dalam satu nafas.

“dan apa kamu pernah peduli siy tentang itu?? Seperti biasa kamu di sana Cuma senyum-senyum ngeledekin aku, lalu syapa yang peduli siapa disini” lanjutnya mulai terpancing emosinya.


“ya lo juga apa pernah peduli perasaan gue di rumah nyokap bokap lo, yang seperti ga pernah di anggap” debatnya


... The Untold Story #part. 4...
"ga pernah di anggap bagian mananya siy??" Achie semakin terpancing emosinya