The Untold Story #part. 2
PERJUANGAN HARI INI
“Bey… Bangun… Jam 6.00” ujarnya
“Hmmmmmmmm” hanya itu jawaban yang
keluar dari pria tersebut.
“Bey… Mandi… Nanti terlambat”
sambungnya
Pria tersebut nampak kesal, lompat masuk kekamar mandi tanpa sepatah katapun, jangakan sepatah kata, menoleh kearahya pun tidak. Di tahan rasa sakit yang mendera begitu dasyatnya, kemudian ia berlalu ke kamar pakaian di siapkannya pakaian kantor untuk pria tersebut. Kegiatan yang pada awal pernikahan sudah dan selalu dia lakukan namun terhenti beberapa saat karena sebuah peristiwa yang membuatnya kesal 3 tahun yang lalu. Di letakkan di kasur semua perlengkapan tersebut, lalu ia turun kembali untuk melanjutkan mempersiapkan makanan untuk pria tersebut, seolah berpacu dengan waktu kala itu, achie sungguh tak ingin kalah dengan dengan waktu dan tantangan yang saat ini besar menghadang jalannya untuk memperbaiki tembok rumah tangganya yang seakan segera runtuh.
06.35 di susun nya rapi bekal makan siang bagi pria tersebut untuk di bawa ke kantor. Di sisinya segelas teh hangat tersedia untuk pria tersebut, di hadapannya piring berisi lauk seadanya terjejer rapi, agar pria tersebut bisa sarapan sebelum berangkat kerja. Tersungging senyuman kecut di bibirnya, “terimakasih Tuhan” batinnya, ia sungguh merasa menang dari waktu pagi itu. Tak lama ia persiapkan semuanya ia pandangi pria yang turun dari kamar tersebut dari atas sampai ujung kakinya, namun hatinya kembali perih, akan tetapi ia acuhkan.
“pake nasi apa di gado aja” bisiknya takut-takut
“pake nasi” jawab pria itu ketus
Bergegas achie mengambilkan sedikit nasi, kemudian di letakkannya di hadapan pria tersebut, hatinya perih sangat perih, di pandanginya pria yang sedang sarapan tersebut, pria yang seolah tak lagi dia kenal, pria yang sampai dengan detik di pagi itu menjadi sangat asing baginya.
“ini bekal buat nanti makan siang di
kantor ya bey” bisiknya sedikit nyaring, hanya agar ia yakin pria di hadapannya
tersebut mendengar.
“hmmmmmmm” lagi-lagi hanya kalimat
itu saja yang keluar dari mulut pria tersebut. Lalu kembali meneruskan sarapannya.
“Gue berangkat” sambungnya kemudian
melangkah keluar menyalakan motornya, dan berlalu.
Seketika pertahanan achie runtuh di
ambang pintu pagi itu. Tangisnya meledak, bahkan ritual berangkat kerja yang
selam 5 tahun ini rutin di lakukan pun hilang, gerimis di pagi hari itu, kalah dengan
keadaan kedua matanya, mata gadis keturunan india dan jawa itu bahkan sudah
terlebih dahulu hujan deras. Makin deras derai air matanya ketika kembali ia
teringat apa yang di kenakan pria itu berangkat kerja jelas bukanlah apa yang sudah
dengan kasih ia siapkan di atas kasur pagi tadi. Di remas ujung pakaiannya, di
hantamkan kepalanya kuat-kuat pada pintu yang menjadi sandaran kepalanya, kala
itu tak lagi ia peduli dengan rasa sakit, hatinya jauh lebih sakit. perlahan ia
sanggupkan untuk berdiri, dan kemudian bergegas membersikan bekas sarapan pria
tersebut, hatinya hancur dan semakin hancur, air matanya tak juga surut, namun
di sisi hatinya yang lain ia tak mau kalah dengan tantangan yang sangat besar
ini.
“Tuhan sanggup kan aku menjawab semua
tantangan ini” bersitnya dalam hati. Tak lama ia jatuh terduduk di depan sink
dapurnya, kakinya lemas tenaganya habis, karena memang belum sedetikpun ia
beristirahat setelah pertengkaran semalam. Berpegangan pinggiran sink ia
berusaha mengangkat badannya, namun gagal total, terkulai kembali ia di lantai,
di banting barang yang sedang di genggamnya, tangisnya pecah, teriakannya
memenuhi sisi rumah menggetarkan seluruh jendela di rumah itu.
Lemas di kayuhnya sepeda itu menuju
slamet tukang sayur di pojokan jalan, matanya bengkak hadiah dari hujan air
mata yang tak kunjung henti. Di tatapnya nanar tumpukan sayur sesampainya ia di
tujuan, di hitung jumlah uang dua ribuan yang masih licin seolah baru saja
keluar dari percetakan. Ia tak lagi berfikir sayang memakai tumpukan uang baru
yang sudah lama ia simpan itu, yang ada di otaknya hanya bagaimana ia menyelamatkan
bahteranya yang berada dalam ancaman karam tersebut. Tiba giliranya setelah tak
cukup lama ia mengantri, di sebut bahan makanan yang ia inginkan, di serahkan
lembaran uang dua ribuan tersebut dan bergegas ia kembali mengayuh sepedanya
pulang, menyerah kan bahan masakan kepada asisten rumah tangganya,
sungguh-sungguh ia tak mau kalah sedetikpun dengan semua tantangan yang ada di
hadapannya tersebut.
“mba itu kentang di balado, togenya
di tumis aja, labu siamnya di rebus seperti biasa, klo bisa nemu rawit
dihalaman depan sambel jangan lupa yah mba” instruksinya pada mba titin asisten
rumah tanganya. Bahkan dari semua menu yang ia sebut itu adalah menu favorit
dari pria terkasih yang sedang ia perjuangkan hatinya. Dan asisten rumah tangganya
hanya mengangguk seolah paham dengan apa yang sedang di alami oleh majikannya,
maka ia tak ingin berbicara banyak.
“tidur tan, mata sampe bengkak
begitu, pucat sekali, belum tidur yah?” lanjutnya sembari menyiapkan
bahan-bahan yang telah achie beli pagi itu.
“iya mba, ini aku mau mandi trus
baringan sebentar, ngeri juragan pulang siang-siang aku masih tidur, dia marah
besar tadi malam” jawabnya lirih di selingi melirik ke handphonenya, berharap
ada pesan singkat bahwa pria itu sudah sampai dengan selamat di kantornya,
namun nihil. Lalu gontai dia menaiki anak tangga menuju kamarnya. Langkahnya
terhenti saat akan membuka pintu kamar tersebut, kesedihan tiba-tiba menyeruak
ruang batinnya, ia tau bahwa akan di sugguhi pemandangan menyedihkan kala ia
memasuki kamar tersebut.
Dihelanya nafas panjang dan berat,
mengumpulkan asanya membuka kamar tersebut, benar saja apa yang sudah dia siap
kan untuk pria berangkat kerja hari itu masih tergeletak rapih di tempatnya,
bahkan sampai dalaman yang ia siapkan tak semilipun bergeser dari tempatnya.
Habis sudah sisa hatinya, hancur tak ada lagi sisanya, tubuhnya terhempas di
tempat tidur lalu kesadarannya hilang di telan kesedihan dan lelah yang teramat
sangat.
Tersentak kaget ia terbangun dari
lelapnya, di carinya bunyi bising yang mengusik lelapnya, tangannya kaku
memeluk pakaian kerja pria tersebut, di liriknya nama yang muncul di
handphonenya berharap nama pria tersebut, sedikit kecewa ia mendapati nama lain
yang terpampang di sana, berat ia menekan tombol bicara semata agar deringan
itu tak semakin memekakkan telinganya. Tak lama selesai percakapannya dengan
asisten rumah tangga tersebut, dengan penuh harap ia cek semua aplikasi di
handphonenya masih saja dia berharap mendapatkan pesan singkat atau apalah dari
pria tersebut namun semuanya nihil. Hatinya semakin pilu, berat ia hembuskan
nafasnya, di paksa badanya untuk berdiri di tengah sakit kepala yang teramat
sangat, melayang berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh mukanya, di rabanya
nyeri teramat sangat di bagian belakang kepalanya, ada bengkak hadiah dari
hantaman keras di pintu pagi tadi.
“7 tahun hilang, sekarang kumat”
sepenggal kata itu seolah memaklumi sisi dirinya yang lain melakukan hal
tersebut. Di pejamkan matanya menahan sakit yang teramat sangat di kepalanya,
terutama di bengkak belakang kepalanya tersebut. Berusaha keras ia mengingat
hal indah nyang sudah pernah terjadi di hidupnya bersama pria itu, di ingatnya kembali
ribuan cita-cita dan mimpi yang ia susun rapi, untuk di wujudkan bersama pria
itu, berusaha menipu hatinya yang sudah habis lumat di lahap rasa sakit yang
teramat sangat. Tanpa sadar mengalir sedikit air mata dari sudut matanya.
“Tuhan… kau yang nilai perjuangan ku,
jangan kau buat ini sia-sia” lalu hembusan nafas berat terdengar dari mulutnya.
“jangan menyerah chie, hal ini sudah
pernah kau perjuangakan sebelumnya, kali ini, ini hanya harus di perjuangkan
sekali lagi, di hadapan orang yang dulu sama-sama memperjuangkan ini
sebelumnya” bisiknya lemah, terus memberikan semangat untuk dirinya sendiri
agar tak putus asa, tatapannya kosong, hatinya kosong, pikirannya terus saja
mencari cara bagaimana menyelamatkan, bahkan perutnya yang belum terisi dari
semalam pun tak sempat ia pikirkan.
“Jangan lupa di makan bekalnya yah
bey” ketiknya di dalam pesan singkat, ragu ia menekan tombol kirim, namun dia
harus mengirimkannya agar patah anggapan dari pria tersebut, bahwa dirinya
tidak pernah memikirkan keberadaanya, agar patah anggapan dari pria tersebut
bahwa achie hanya mau menghubunginya saat ia ada perlu sebelum pria itu sampai
di rumah.
Cemas ia menanti balasan dari pesan
yang di kirimkannya tadi, 2 jam berlalu tak satu respon pun pria itu membalas
pesannya. Tak ingin larut dalam kepiluannya, sembari melirik jam dinding di
kamarnya ia bergegas bersiap turun, karena saat itu menunjukan waktu pria itu
pulang dari kantornya. Sebelum ia turun ia basuh sekali lagi mukanya, agar bukan
tampang lesu yang di perlihatkan saat ia membuka pintu untuk pria itu setibanya
dari kantor.
“pulang jam berapa?? Hati-hati di
jalan yang bey, ayafu” sebaris pesan yang kembali ia kirimkan dengan sangat
penuh keraguan, ia seakan tau itu hanya perbuatan yang sia-sia, karena tak akan
ada juga jawaban dari orang yang akan menerima pesan tersebut, sama seperti
pesan yang ia kirimkan sebelumnya, namun tak gentar ia lakukan kembali hanya
untuk mematahkan anggapan negatif dari pria tersebut, dan baginya tak ada
salahnya juga menunjukkan betapa ia masih sangat perhatian dengan pria yang
sebenar-benarnya sudah menghancurkan hatinya sedemikan rupa.
Di liriknya jam dinding yang
tergantung di atas pintu masuk rumahnya, matanya berat tergelayuti kantuk yang
amat sangat, sudah terlalu jauh dari jam pulang kantor, namun tak juga ada
pertanda bahwa pria itu akan pulang, berulang kali di cek handphonenya, tak
juga ada balasan, semakin cemas dan kesal ia menunggu, namun tak cukup punya
keberanian ia meninggalkan ruangan itu untuk berbaring, perasaannya di gelayuti
ketakutan yang amat sangat. Ia takut kala ia berbaring maka ia akan jatuh
terlelap dan melewatkan kepulangan pria tersebut, dan menghancurkan semua yang
sedang ia perjuangkan.
Tiga jam berlalu dari terakhir ia
melirik kearah jam dinding, akhirnya suara motor yang yang sangat ia kenali
terdengar juga. Bergegas lompat ia dari tempatnya, mengalahkan sakit yang di
kepalanya, di rapikannya rambutnya lalu dengan senyuman terindah yang di paksakan
ia bukakan pintu untuk pria tersebut, di raihnya tas kecil yang selalu pria itu
bawa, di tunggunya pria itu melakukan ritual yang biasa di lakukan jika pulang
berpergian tanpa dirinya, namun bak angin lalu pria itu melenggang begitu saja
melewati dirinya. Satu lagi kebiasaan hilang saat itu. Achie terpejam kembali
menahan sakit di hatinya, cepat ia membalik badan agar tak kalah cepat untuk
mengambilkan air minum, lalu di berikannya kepada pria tersebut. Yang tanpa
melihat kearahnya, mengambil gelas tersebut, meneguk habis lalu ia berlalu naik
ke lantai atas.
Terduduk lemas achie di kursi yang
berada di hadapannya, di gelengkannya lemah kepalanya, tanganya meremas ujung
bajunya, sakit yang sangat luar biasa kembali ia rasakan, di hembuskan nafasnya
berat, di langkahkan kakinya mengisi kembali gelas kosong di hadapannya, lalu
duduk manis ia menanti pria tersebut turun untuk makan. Yang tak lama pria itu
turun dan duduk di sisi lain meja makan tersebut.
“banyak atau sedikit” ujarnya memecah
ke heningan
“sedang aja” jawab pria itu ketus
Lalu disodorkan piring berisi nasi
panas pada pria itu, di bukannya tudung saji yang menutupi barisan makanan yang
sedari siang tadi sudah tiga kali di panaskan. Sengaja ia tidak juga ikut mengambil
nasi, untuk ikut makan kala itu semata hanya ingin mendengar ajakan makan seperti yang sudah-sudah. Namun sekali
lagi harapannya sia-sia, sampai pria itu selesai makan tak sedikitpun
mengingatkan. Di tahannya perih di perutnya, pikirnya tak apalah hari ini tak
makan, anggap saja itu sebagai bagian dari perjuangannya.
“besok mau bawa apa untuk di kantor”
tanyanya ragu
“ini juga boleh, di panasin lagi aja”
jawabnya agak lembut paling tidak tak seketus jawaban sebelumnya. Sedikit
membuat achie bisa tersenyum, meskipun senyuman kecut.
“buat di kantor lho, yang ini buat
sarapan aja gimana??” di lontarkannya pertanyaan yang agak panjang, meskipun penuh
ketakutan
“terserah kamu aja, aku apa aja
boleh” meskipun sama sekali tak melihat ke arahnya, namun terselipnya kembali
kata “aku” dan “kamu”, cukup membuat senyum kecutnya berganti dengan senyum
simpul yang jauh lebih indah dari sebelumnya.
Yang di pikirannya saat itu adalah,
mungkin pria itu meski dengan alasan iba, sedikit demi sedikit bisa melembutkan
hatinya, melihat perubahan dan perjuangan wanita yang di nikahinya 5 tahun
lalu, yang kini sedang berjuang mati-matian untuk merebut hatinya kembali. Lalu
ruangan itu kembali sunyi, pria itu tenggelam dalam kesibukan di ponselnya,
sementara achie sibuk membenahi serpihan hatinya, seolah bersiap menerima
kembali kepulangan sosok yang ia kenal.
Tak lama di keheningan itu pria itu
bangkit dari duduknya, mengecup sekilas kening achie, memeluknya sekilas,
“aku tidur duluan, ngantuk banget,
kamu jangan ga tidur lagi” kemudian berlalu menuju kamar mereka tanpa menunggu
jawaban dari lawan bicaranya. Seolah tak percaya secepat kilat achie hanya bisa
mengangguk, dan bertanya dalam hati apakah benar pria itu tau kalau dirinya semalaman
beneran tidak tidur, hanya untuk menyiapkan makanan untuk dia di pagi harinya.
hanya senyuman yang menghias bibir
mungilnya, hatinya penuh terisi harapan, meski tak pasti juga harapan itu
bertahan sampai kapan, namun ia sadari penuh jika saat ini yang dia miliki
hanya harapan dan harapan. Lalu dengan riang ia kemasi sisa-sisa makanan di
hadapanya, membereskan bekas makan pria tersebut.
“setidaknya perjuangan hari ini sudah
aku lewati dengan sangat baik” jeritnya senang dalam hati.
..... The Untold Story #part3
..... The Untold Story #part3
0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home