iniblognyachie

Tuesday, March 14, 2017

The Untold Story #part. 2


PERJUANGAN HARI INI


“Bey… Bangun… Jam 6.00” ujarnya
“Hmmmmmmmm” hanya itu jawaban yang keluar dari pria tersebut.
“Bey… Mandi… Nanti terlambat” sambungnya

Pria tersebut nampak kesal, lompat masuk kekamar mandi tanpa sepatah katapun, jangakan sepatah kata, menoleh kearahya pun tidak. Di tahan rasa sakit yang mendera begitu dasyatnya, kemudian ia berlalu ke kamar pakaian di siapkannya pakaian kantor untuk pria tersebut. Kegiatan yang pada awal pernikahan sudah dan selalu dia lakukan namun terhenti beberapa saat karena sebuah peristiwa yang membuatnya kesal 3 tahun yang lalu. Di letakkan di kasur semua perlengkapan tersebut, lalu ia turun kembali untuk melanjutkan mempersiapkan makanan untuk pria tersebut, seolah berpacu dengan waktu kala itu, achie sungguh tak ingin kalah dengan dengan waktu dan tantangan yang saat ini besar menghadang jalannya untuk memperbaiki tembok rumah tangganya yang seakan segera runtuh.

06.35 di susun nya rapi bekal makan siang bagi pria tersebut untuk di bawa ke kantor. Di sisinya segelas teh hangat tersedia untuk pria tersebut, di hadapannya piring berisi lauk seadanya terjejer rapi, agar pria tersebut bisa sarapan sebelum berangkat kerja. Tersungging senyuman kecut di bibirnya, “terimakasih Tuhan” batinnya, ia sungguh merasa menang dari waktu pagi itu. Tak lama ia persiapkan semuanya ia pandangi pria yang turun dari kamar tersebut dari atas sampai ujung kakinya, namun hatinya kembali perih, akan tetapi ia acuhkan.

“pake nasi apa di gado aja” bisiknya takut-takut

“pake nasi” jawab pria itu ketus

Bergegas achie mengambilkan sedikit nasi, kemudian di letakkannya di hadapan pria tersebut, hatinya perih sangat perih, di pandanginya pria yang sedang sarapan tersebut, pria yang seolah tak lagi dia kenal, pria yang sampai dengan detik di pagi itu menjadi sangat asing baginya.
“ini bekal buat nanti makan siang di kantor ya bey” bisiknya sedikit nyaring, hanya agar ia yakin pria di hadapannya tersebut mendengar.
“hmmmmmmm” lagi-lagi hanya kalimat itu saja yang keluar dari mulut pria tersebut. Lalu kembali meneruskan sarapannya.
“Gue berangkat” sambungnya kemudian melangkah keluar menyalakan motornya, dan berlalu.
Seketika pertahanan achie runtuh di ambang pintu pagi itu. Tangisnya meledak, bahkan ritual berangkat kerja yang selam 5 tahun ini rutin di lakukan pun hilang, gerimis di pagi hari itu, kalah dengan keadaan kedua matanya, mata gadis keturunan india dan jawa itu bahkan sudah terlebih dahulu hujan deras. Makin deras derai air matanya ketika kembali ia teringat apa yang di kenakan pria itu berangkat kerja jelas bukanlah apa yang sudah dengan kasih ia siapkan di atas kasur pagi tadi. Di remas ujung pakaiannya, di hantamkan kepalanya kuat-kuat pada pintu yang menjadi sandaran kepalanya, kala itu tak lagi ia peduli dengan rasa sakit, hatinya jauh lebih sakit. perlahan ia sanggupkan untuk berdiri, dan kemudian bergegas membersikan bekas sarapan pria tersebut, hatinya hancur dan semakin hancur, air matanya tak juga surut, namun di sisi hatinya yang lain ia tak mau kalah dengan tantangan yang sangat besar ini.
“Tuhan sanggup kan aku menjawab semua tantangan ini” bersitnya dalam hati. Tak lama ia jatuh terduduk di depan sink dapurnya, kakinya lemas tenaganya habis, karena memang belum sedetikpun ia beristirahat setelah pertengkaran semalam. Berpegangan pinggiran sink ia berusaha mengangkat badannya, namun gagal total, terkulai kembali ia di lantai, di banting barang yang sedang di genggamnya, tangisnya pecah, teriakannya memenuhi sisi rumah menggetarkan seluruh jendela di rumah itu.
Lemas di kayuhnya sepeda itu menuju slamet tukang sayur di pojokan jalan, matanya bengkak hadiah dari hujan air mata yang tak kunjung henti. Di tatapnya nanar tumpukan sayur sesampainya ia di tujuan, di hitung jumlah uang dua ribuan yang masih licin seolah baru saja keluar dari percetakan. Ia tak lagi berfikir sayang memakai tumpukan uang baru yang sudah lama ia simpan itu, yang ada di otaknya hanya bagaimana ia menyelamatkan bahteranya yang berada dalam ancaman karam tersebut. Tiba giliranya setelah tak cukup lama ia mengantri, di sebut bahan makanan yang ia inginkan, di serahkan lembaran uang dua ribuan tersebut dan bergegas ia kembali mengayuh sepedanya pulang, menyerah kan bahan masakan kepada asisten rumah tangganya, sungguh-sungguh ia tak mau kalah sedetikpun dengan semua tantangan yang ada di hadapannya tersebut.
“mba itu kentang di balado, togenya di tumis aja, labu siamnya di rebus seperti biasa, klo bisa nemu rawit dihalaman depan sambel jangan lupa yah mba” instruksinya pada mba titin asisten rumah tanganya. Bahkan dari semua menu yang ia sebut itu adalah menu favorit dari pria terkasih yang sedang ia perjuangkan hatinya. Dan asisten rumah tangganya hanya mengangguk seolah paham dengan apa yang sedang di alami oleh majikannya, maka ia tak ingin berbicara banyak.
“tidur tan, mata sampe bengkak begitu, pucat sekali, belum tidur yah?” lanjutnya sembari menyiapkan bahan-bahan yang telah achie beli pagi itu.
“iya mba, ini aku mau mandi trus baringan sebentar, ngeri juragan pulang siang-siang aku masih tidur, dia marah besar tadi malam” jawabnya lirih di selingi melirik ke handphonenya, berharap ada pesan singkat bahwa pria itu sudah sampai dengan selamat di kantornya, namun nihil. Lalu gontai dia menaiki anak tangga menuju kamarnya. Langkahnya terhenti saat akan membuka pintu kamar tersebut, kesedihan tiba-tiba menyeruak ruang batinnya, ia tau bahwa akan di sugguhi pemandangan menyedihkan kala ia memasuki kamar tersebut.
Dihelanya nafas panjang dan berat, mengumpulkan asanya membuka kamar tersebut, benar saja apa yang sudah dia siap kan untuk pria berangkat kerja hari itu masih tergeletak rapih di tempatnya, bahkan sampai dalaman yang ia siapkan tak semilipun bergeser dari tempatnya. Habis sudah sisa hatinya, hancur tak ada lagi sisanya, tubuhnya terhempas di tempat tidur lalu kesadarannya hilang di telan kesedihan dan lelah yang teramat sangat.
Tersentak kaget ia terbangun dari lelapnya, di carinya bunyi bising yang mengusik lelapnya, tangannya kaku memeluk pakaian kerja pria tersebut, di liriknya nama yang muncul di handphonenya berharap nama pria tersebut, sedikit kecewa ia mendapati nama lain yang terpampang di sana, berat ia menekan tombol bicara semata agar deringan itu tak semakin memekakkan telinganya. Tak lama selesai percakapannya dengan asisten rumah tangga tersebut, dengan penuh harap ia cek semua aplikasi di handphonenya masih saja dia berharap mendapatkan pesan singkat atau apalah dari pria tersebut namun semuanya nihil. Hatinya semakin pilu, berat ia hembuskan nafasnya, di paksa badanya untuk berdiri di tengah sakit kepala yang teramat sangat, melayang berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh mukanya, di rabanya nyeri teramat sangat di bagian belakang kepalanya, ada bengkak hadiah dari hantaman keras di pintu pagi tadi.
“Ini bahkan tidak sesakit hati mu chie.” Bicara lirih pada dirinya sendiri, seolah menyemangati, agar ia tak patah semangat hanya karena bengkak tersebut. Di raih baju bersih di hadapnya, di gantinya pakaian yang menjadi saksi bisu tangisannya itu. kemudian setelah ia menelan pil obat sakit kepala di rebahkan tubuhnya di kasur seraya melihat sayatan di lenganya, bibirnya tersenyum kecut.
“7 tahun hilang, sekarang kumat” sepenggal kata itu seolah memaklumi sisi dirinya yang lain melakukan hal tersebut. Di pejamkan matanya menahan sakit yang teramat sangat di kepalanya, terutama di bengkak belakang kepalanya tersebut. Berusaha keras ia mengingat hal indah nyang sudah pernah terjadi di hidupnya bersama pria itu, di ingatnya kembali ribuan cita-cita dan mimpi yang ia susun rapi, untuk di wujudkan bersama pria itu, berusaha menipu hatinya yang sudah habis lumat di lahap rasa sakit yang teramat sangat. Tanpa sadar mengalir sedikit air mata dari sudut matanya.
“Tuhan… kau yang nilai perjuangan ku, jangan kau buat ini sia-sia” lalu hembusan nafas berat terdengar dari mulutnya.
“jangan menyerah chie, hal ini sudah pernah kau perjuangakan sebelumnya, kali ini, ini hanya harus di perjuangkan sekali lagi, di hadapan orang yang dulu sama-sama memperjuangkan ini sebelumnya” bisiknya lemah, terus memberikan semangat untuk dirinya sendiri agar tak putus asa, tatapannya kosong, hatinya kosong, pikirannya terus saja mencari cara bagaimana menyelamatkan, bahkan perutnya yang belum terisi dari semalam pun tak sempat ia pikirkan.
“Jangan lupa di makan bekalnya yah bey” ketiknya di dalam pesan singkat, ragu ia menekan tombol kirim, namun dia harus mengirimkannya agar patah anggapan dari pria tersebut, bahwa dirinya tidak pernah memikirkan keberadaanya, agar patah anggapan dari pria tersebut bahwa achie hanya mau menghubunginya saat ia ada perlu sebelum pria itu sampai di rumah.
Cemas ia menanti balasan dari pesan yang di kirimkannya tadi, 2 jam berlalu tak satu respon pun pria itu membalas pesannya. Tak ingin larut dalam kepiluannya, sembari melirik jam dinding di kamarnya ia bergegas bersiap turun, karena saat itu menunjukan waktu pria itu pulang dari kantornya. Sebelum ia turun ia basuh sekali lagi mukanya, agar bukan tampang lesu yang di perlihatkan saat ia membuka pintu untuk pria itu setibanya dari kantor.
“pulang jam berapa?? Hati-hati di jalan yang bey, ayafu” sebaris pesan yang kembali ia kirimkan dengan sangat penuh keraguan, ia seakan tau itu hanya perbuatan yang sia-sia, karena tak akan ada juga jawaban dari orang yang akan menerima pesan tersebut, sama seperti pesan yang ia kirimkan sebelumnya, namun tak gentar ia lakukan kembali hanya untuk mematahkan anggapan negatif dari pria tersebut, dan baginya tak ada salahnya juga menunjukkan betapa ia masih sangat perhatian dengan pria yang sebenar-benarnya sudah menghancurkan hatinya sedemikan rupa.
Di liriknya jam dinding yang tergantung di atas pintu masuk rumahnya, matanya berat tergelayuti kantuk yang amat sangat, sudah terlalu jauh dari jam pulang kantor, namun tak juga ada pertanda bahwa pria itu akan pulang, berulang kali di cek handphonenya, tak juga ada balasan, semakin cemas dan kesal ia menunggu, namun tak cukup punya keberanian ia meninggalkan ruangan itu untuk berbaring, perasaannya di gelayuti ketakutan yang amat sangat. Ia takut kala ia berbaring maka ia akan jatuh terlelap dan melewatkan kepulangan pria tersebut, dan menghancurkan semua yang sedang ia perjuangkan.
Tiga jam berlalu dari terakhir ia melirik kearah jam dinding, akhirnya suara motor yang yang sangat ia kenali terdengar juga. Bergegas lompat ia dari tempatnya, mengalahkan sakit yang di kepalanya, di rapikannya rambutnya lalu dengan senyuman terindah yang di paksakan ia bukakan pintu untuk pria tersebut, di raihnya tas kecil yang selalu pria itu bawa, di tunggunya pria itu melakukan ritual yang biasa di lakukan jika pulang berpergian tanpa dirinya, namun bak angin lalu pria itu melenggang begitu saja melewati dirinya. Satu lagi kebiasaan hilang saat itu. Achie terpejam kembali menahan sakit di hatinya, cepat ia membalik badan agar tak kalah cepat untuk mengambilkan air minum, lalu di berikannya kepada pria tersebut. Yang tanpa melihat kearahnya, mengambil gelas tersebut, meneguk habis lalu ia berlalu naik ke lantai atas.
Terduduk lemas achie di kursi yang berada di hadapannya, di gelengkannya lemah kepalanya, tanganya meremas ujung bajunya, sakit yang sangat luar biasa kembali ia rasakan, di hembuskan nafasnya berat, di langkahkan kakinya mengisi kembali gelas kosong di hadapannya, lalu duduk manis ia menanti pria tersebut turun untuk makan. Yang tak lama pria itu turun dan duduk di sisi lain meja makan tersebut.
“banyak atau sedikit” ujarnya memecah ke heningan
“sedang aja” jawab pria itu ketus
Lalu disodorkan piring berisi nasi panas pada pria itu, di bukannya tudung saji yang menutupi barisan makanan yang sedari siang tadi sudah tiga kali di panaskan. Sengaja ia tidak juga ikut mengambil nasi, untuk ikut makan kala itu semata hanya ingin mendengar ajakan  makan seperti yang sudah-sudah. Namun sekali lagi harapannya sia-sia, sampai pria itu selesai makan tak sedikitpun mengingatkan. Di tahannya perih di perutnya, pikirnya tak apalah hari ini tak makan, anggap saja itu sebagai bagian dari perjuangannya.
“besok mau bawa apa untuk di kantor” tanyanya ragu
“ini juga boleh, di panasin lagi aja” jawabnya agak lembut paling tidak tak seketus jawaban sebelumnya. Sedikit membuat achie bisa tersenyum, meskipun senyuman kecut.

“buat di kantor lho, yang ini buat sarapan aja gimana??” di lontarkannya pertanyaan yang agak panjang, meskipun penuh ketakutan
“terserah kamu aja, aku apa aja boleh” meskipun sama sekali tak melihat ke arahnya, namun terselipnya kembali kata “aku” dan “kamu”, cukup membuat senyum kecutnya berganti dengan senyum simpul yang jauh lebih indah dari sebelumnya.
Yang di pikirannya saat itu adalah, mungkin pria itu meski dengan alasan iba, sedikit demi sedikit bisa melembutkan hatinya, melihat perubahan dan perjuangan wanita yang di nikahinya 5 tahun lalu, yang kini sedang berjuang mati-matian untuk merebut hatinya kembali. Lalu ruangan itu kembali sunyi, pria itu tenggelam dalam kesibukan di ponselnya, sementara achie sibuk membenahi serpihan hatinya, seolah bersiap menerima kembali kepulangan sosok yang ia kenal.
Tak lama di keheningan itu pria itu bangkit dari duduknya, mengecup sekilas kening achie, memeluknya sekilas,
“aku tidur duluan, ngantuk banget, kamu jangan ga tidur lagi” kemudian berlalu menuju kamar mereka tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya. Seolah tak percaya secepat kilat achie hanya bisa mengangguk, dan bertanya dalam hati apakah benar pria itu tau kalau dirinya semalaman beneran tidak tidur, hanya untuk menyiapkan makanan untuk dia di pagi harinya.
hanya senyuman yang menghias bibir mungilnya, hatinya penuh terisi harapan, meski tak pasti juga harapan itu bertahan sampai kapan, namun ia sadari penuh jika saat ini yang dia miliki hanya harapan dan harapan. Lalu dengan riang ia kemasi sisa-sisa makanan di hadapanya, membereskan bekas makan pria tersebut.

“setidaknya perjuangan hari ini sudah aku lewati dengan sangat baik” jeritnya senang dalam hati.



..... The Untold Story #part3

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]



<< Home