iniblognyachie

Monday, March 13, 2017

The Untold Story #part.1



NASI DAN GARAM

“Aku saja sudah tidak bisa menafkahi diriku sendiri, bagaimana aku bisa menafkahi kamu… aku kembalikan kamu ke orang tua mu yah??”
kata-kata itu bak suara petir yang berdentum begitu kerasnya di kuping achie, tak pernah terbayangkan sebelumnya dia akan mendengar kata-kata tersebut keluar dari mulut pria yang saat ini ada di hadapannya, pria yg selama 8 tahun dia kenal dengan begitu baik dan bertanggung jawab, pria yang paling tidak selama 5 tahun belakangan ini ia kenal sebagai pria yang pantang menyerah dalam rumah tangganya. Namun entah kenapa di pagi buta itu, pada akhirnya keluarlah kata-kata yang terbayangkan pun tidak di benak seorang achie.
Apa aku pernah mengeluh sebelumnya?? 5 tahun aku berjuang di rumah tangga ini, dengan semua kekurangan mu, apakah aku pernah mengeluh?? Bahkan beberapa kali aku makan dengan lauk garam dan hanya dengan kerupuk pun apa aku pernah protes?? Sehingga begitu mudahnya nya keluar omongan seperti itu dari kamu?? Jawabnya lirih, jantungnya berdegub sangat kencang, bahkan achie sendiri pun dapat mendengar suara jantungnya sendiri dengan sangat jelas, Tatapannya nanar menatap pria di hadapannya.  Pria yang sudah 5 thn ia dampingi hidupnya, dalam keadaan susah maupun senang, pria yg selama 5 thn ini namanya selalu tersebut dalam doa di tiap-tiap malam ia terjaga. Namun tak sepatah kata yang keluar dari pria tersebut, pria itu hanya tetap tertunduk, matanya terpejam, entah apa yg ada di pikirannya.
1001 pikiran berkecamuk di pikiran achie, pikirannya bak benang kusut yg tak dapat lagi di cari ujungnya, hatinya perlahan mulai retak, dan satu persatu mulai berjatuhan di tanah. Sekuat tenaga ia tahan air mata di ujung matanya, ia tak ingin menangis, bahkan setelah mendengarkan kata tersebut ia masih tak ingin pria di hadapannya tersebut melihat airmatanya, ia tak ingin mental pria tersebut semakin drop melihat butiran airmatanya tersebut.
“Tuhan… Selamatkan rumah tangga ini” sebersit doa terucap di hatinya.
Ya!! Achie sangat mencintai keluarga kecilnya ini, bahkan setelah sesuatu terjadi di usia 4 bulan pernikahannya pun, achie tetap tak bergeming, ia tetap memutuskan untuk terus memperjuangkan pernikahannya, melindungi rumah tangganya, dan mendampingi pria yang selama ini ia sejajarkan posisinya dengan ayahnya.
“Apa kesalahan aku?? Kenapa ga di jawab pertanyaan aku?? Ujarnya lagi, memecah keheningan di ruangan itu, suaranya terdengar bergetar, tercekat ia menahan air matanya, tetap ia tak ingin menangis.
“ini tuh seperti bom waktu, 5 tahun aku pendam dan sekarang meledaknya” sepotong kalimat yang tak cukup membuat achie puas itu cukup membuat achie semakin mengucurkan keringat dingin.
“5 tahun aku berjuang sendiri, kamu ga pernah sama sekali ngebantuin aku”
“aku berangkat kerja seringnya kmu masih tidur, aku pulang kerja kamu seringnya ga buka pintu, malah terkadang cuek nonton tv, bahkan ngambilin air minum pun engga” cerocos pria tersebut, jawaban yang cukup membuat hati seorang achie semakin terkoyak, seolah tak percaya alasan itu yang di jadikan jawaban oleh pria yang sampai detik ini masih sangat ia agungkan tersebut. Kepalanya menggeleng lemah, ingin ia tegaskan rasa ketidak percayaan atas jawaban yang ia terima.
“sudah 5 tahun hal itu terjadi, kenapa kamu baru protes sekarang?? Jawabnya lemah.
“lalu apa yang itu menjadikan alasan kmu mendiamkan aku sebulan ini?? Sebulan kmu pergi dari pagi, pulang tengah malam tanpa aku mengerti kamu ada di mana?? Lanjutnya lirih.
“kebiasaan mengirimkan kabar sesampainya kmu di kantor pun, hampir sebulan ini sudah ga pernah lagi kmu lakukan” sambungnya


“Buat apa?? Ga pernah lo respon juga khan?? Potong pria tersebut dengan gagahnya
“LO” kembali tak percaya kalimat asing itu yang tedengar di telinga achie, semakin luluh lantah hati seorang achie di buat pria ini, namun tetap di tahanya sekuat tenaga airmatanya, tetap ia tak ingin pria yang ia sayangi tersebut semakin drop mentalnya melihat air mata yang tumpah tersebut. Masih sebesar itu ia achie menjaga stabil mental dan mood sesosok pria yang bediri tegak di hadapnnya itu.
“Aku ga pernah respon?? Bukannya biar siang aku selalu bales itu semua??” sanggahnya berusaha tegar.
“iya, lo bales, tp ketika udah mau pulang kantor”
“iya, lo bales… tapi dengan balesan lo sakit lah, lo minta apalah, bukan dengan sesuatu yang bikin gwe tenang!!” jawab pria itu gagah, dengan nada yang meninggi, dan suara yang mulai nyaring.
“GWE” luluh lantah sudah hati seorang achie mendengar sepotong kalimat tersebut, sepotong kalimat yang nyaris tak pernah ia dengar keluar dari mulut pria itu, untuk membahasakan dirinya di depan achie, setidaknya selama 5 tahun belakangan ini. Semakin yakin ia terjadi sesuatu yang tak beres terhadap hubungannya dengan pria ini. Perlahan gambaran  pria di hadapanya tersebut kabur, tertutup air mata yang sedari tadi telah sekuat tenaga ia pertahankan, agar tidak tumpah. Masih belum percaya ia dengan sekian banyak alasan yang di berikan pria tersebut, hatinya masih harus terkoyak dengan suara pria itu, yang membentaknya, yang bahkan sejak mereka saling mengenal tak sedikitpun achie pernah mendengar pria itu berkata senyaring yang ia lakukan seperti yang barusan terjadi. Achie seperti tak lagi mengenal pria ini. Achie semakin tak mengenali sesosok pria di hadapannya tersebut.
“5 tahun ini berjalan, kenpa baru protes sekarang??”
“selama 5thn aku tanya, apa yang kmu ga suka dari aku, kamu selalu cuma menjawab dengan “aku cuma ga suka kamu rewel” Cuma itu.”
“Lalu sekarang, ini yang kamu jadikan alasan mendiamkan aku hampir sebulan ini??”
“bahkan kita sudah melewatinya selama 5 tahun dengan keadaan seperti ini, dan bahkan kmu ga pernah protes” jawabnya panjang, di sela derai air mata yang semakin deras mengalir, dadanya seperti tertindih batu ribuan ton, Namun apapun itu tak sesakit sayatan di hatinya mendengar alasan yang bahkan ia pernah membahasnya berdua sebelum peristiwa ini terjadi.
“Khan sudah gwe bilang, ini semua bom waktu, 5thn gwe pendam dan sekarang meledaknya” Ulang pria tersebut gagah
“Ya!! Tapi kita pernah membahas ini sebelumnya, dan bahkan kmu ga pernah menjawab dengan semua rentetan jawaban barusan” hanya itu saja yang sanggup achie katakan sedari tadi.
“Bom waktu”
“Bom waktu”
“lo paham bom waktu ga siy?? Dari tadi khan gwe bilang bom waktu” Bentak pria tersebut menjawab pertanyaan achie barusan.
“Okey… kalo seperti itu, lalu apa yang kmu mau aku buat, agar supaya kamu mau memaafkan aku, dan tidak bersikap seperti orang asing lagi” sambung achie
“Don’t push me”
“Leave me alone”
“lo tau gwe lah, seberapa lama sih klo gwe marah sama orang, biarin aja gwe diem sebentar, nanti juga baik sendiri” jawabnya gagah, mematikan rokoknya lalu melenggang meninggalkan achie yang masih kalut dengan sejuta pertanyaan di otaknya. Meninggalkan achie yang masih sekuat tenaga mempertahankan serpihan hatinya agar tak ada lagi yang jatuh berhamburan di dasar palung hatinya.
Kali ini tak lagi dapat achie membendung air matanya, ia menangis sesenggukan, semua kata-kata pria tersebut seolah terulang terus dan terus di telinga dan di otaknya, belum lagi perlakuan janggal yang laki-laki ini perbuat barusan, semakin membuat matanya buram karena air mata dan semakin membuat dadanya semakin sesak. Malam itu tak sanggup lagi kakinya berjuang melewati anak tangga, untuk menyusuli pria tersebut memasuki kamar mereka berdua, sama sekali achie tak lagi bisa merasakan kedua belah kakinya, jangankan kakinya bahkan tulang pun seolah ia tak lagi memiliki.
Dihisapnya dalam-dalam rokok yang sedari tadi hanya di pandanginya, otaknya tak sanggup berfikir jernih, banyak sekali yang berlarian di otak seorang achie pada dini hari menjelang subuh itu, air mata yang sedari tadi di cobanya untuk berhenti, tak juga kunjung ia berhasil hentikan. Tanggannya semakin gemetar, giginya gemeretak seolah saling beradu, mendadak tubuhnya mengigil. Dibawah alam sadarnya dia mengambil pisau alis yang berada dekat dengan tempanya duduk dan menangis itu, dan kemudian tanpa sadar achie kembali kepada kebiasaan lamanya, kebiasaan yang setidaknya selama 7 tahun ini sudah tidak lagi ia lakukan. Sayatan demi sayatan ia goreskan di kulit pergelangan tangannya yang halus tersebut, tanpa sadar guratan demi guratan menghiasi lengan tersebut, seolah tak ada perih yang achie rasakan saat melakukannya, kegiatan tersebut baru berakhir setelah ia melihat butiran-butiran merah yang mulai timbul sebagai akibat sayatan tersebut. Di bantingnya pisau alis tersebut, mengerang ia tercekat menahan rasa sakit di pergelangan tangannya itu, lalu kembali ia menangis dengan kencangnya. Ia merasa terlalu kecewa sehingga kebiasaannya tersebut kembali terulang. Seorang achie memang dari kecil khatam dengan rasa sakit, saat kecil dulu jika ia kena amuk oleh kedua orang tuanya, semakin ia menangis semakin gebukan dan bentakan yang di terima, karenanya achie terpaksa melampiaskan rasa kecewa dan sakit hatinya dengan menyakiti dirinya sendiri, dan hal itu terbawa sampai ia dewasa, namun kebiasaan ini pernah sejenak ia tinggalkan saat ia bersama pria yang selama kurang lebih 7 tahun bersama dengannya. Namun dini hari itu, kembali lagi kebiasaan buruknya. Achie tak menyadari bahwa apa yang telah terjadi sudah mulai menyerang psikologisnya, sehingga ia kembali melakukan kebiasaan buruk tersebut.
Dini hari itu tak sanggup sedetikpun achie memejamkan matanya, ada ketakutan di dalam benaknya, ia takut sekali saat pria itu akan berangkat kerja, ia masih terlelap dan ia belum sempat menyiapkan sarapan dan makan siang bagi laki-laki yang masih berstatus suaminyanya tersebut. Terbersit niat baik di hatinya, ia ingin membuktikan bahwa ia mampu berubah demi kelangsungan rumah tangganya. Ia ingin membuktikan bahwa ia sanggup menjalakan kewajibannya sebagai istri sesuai dengan apa yang pria ini inginkan.


Jam dinding yang tergantung di atas kompor rumahnya menunjukan pukul 06:00 pagi, tak lama alarm pengingat waktu di handphonenya pun berbunyi, serta merta achie berdiri dan terpaku lama di depan lemari es di hadapannya. Memutar otak, menanti jawaban dari langit apa yang bisa dia buat untuk pria tersebut. Di keluarkan bahan seadanya, yang sekiranya ia ingat cara mengolahnya, perlahan ia mulai mengolahnya dengan penuh rasa kasih dan ikhlas. Terselip doa demi doa di tiap kegiatannya di dapur pagi hari itu. Terutama doa agar perlahan apa yang sedang ia perjuangkan perlahan bisa membuat rumah tangganya yang retak tersebut utuh kembali. Ia sadar ini bukan hal yang mudah, namun ia sungguh memohon keajaiban Tuhan. Tak hentinya ia memohon untuk yang kali ini Tuhan mau memihak kepadanya. 06:15 sayup terdengar di lantai atas, suara alarm penanda waktu bangun laki-laki tersebut, di matikan kompornya, tergopoh ia berlari kelantai atas, seolah tak ingin kalah cepat dengan alarm tersebut untuk membangunkan pria kesayangannya tersebut. Di buka perlahan pintu kamarnya, di panggilnya nama pria tersebut berusaha membangunkan, di ulurkan tangannya ingin menguncang tubuh pria tersebut, namun di tariknya kembali, kakinya mudur perlahan. 1000 ketakutan mendadak menghapirinya, kembali ia teriakan namanya berusaha sedikit keras namun tak berteriak agar pria itu terbangun

...... THE UNTOLD STORY #PART2

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]



<< Home