The Untold Story #part.1
“Aku saja sudah tidak bisa menafkahi
diriku sendiri, bagaimana aku bisa menafkahi kamu… aku kembalikan kamu ke orang
tua mu yah??”
kata-kata itu bak suara petir yang berdentum
begitu kerasnya di kuping achie, tak pernah terbayangkan sebelumnya dia akan
mendengar kata-kata tersebut keluar dari mulut pria yang saat ini ada di
hadapannya, pria yg selama 8 tahun dia kenal dengan begitu baik dan bertanggung
jawab, pria yang paling tidak selama 5 tahun belakangan ini ia kenal sebagai
pria yang pantang menyerah dalam rumah tangganya. Namun entah kenapa di pagi
buta itu, pada akhirnya keluarlah kata-kata yang terbayangkan pun tidak di
benak seorang achie.
Apa aku pernah mengeluh sebelumnya??
5 tahun aku berjuang di rumah tangga ini, dengan semua kekurangan mu, apakah
aku pernah mengeluh?? Bahkan beberapa kali aku makan dengan lauk garam dan
hanya dengan kerupuk pun apa aku pernah protes?? Sehingga begitu mudahnya nya
keluar omongan seperti itu dari kamu?? Jawabnya lirih, jantungnya berdegub
sangat kencang, bahkan achie sendiri pun dapat mendengar suara jantungnya
sendiri dengan sangat jelas, Tatapannya nanar menatap pria di hadapannya. Pria yang sudah 5 thn ia dampingi hidupnya,
dalam keadaan susah maupun senang, pria yg selama 5 thn ini namanya selalu
tersebut dalam doa di tiap-tiap malam ia terjaga. Namun tak sepatah kata yang
keluar dari pria tersebut, pria itu hanya tetap tertunduk, matanya terpejam,
entah apa yg ada di pikirannya.
1001 pikiran berkecamuk di pikiran
achie, pikirannya bak benang kusut yg tak dapat lagi di cari ujungnya, hatinya perlahan
mulai retak, dan satu persatu mulai berjatuhan di tanah. Sekuat tenaga ia tahan
air mata di ujung matanya, ia tak ingin menangis, bahkan setelah mendengarkan
kata tersebut ia masih tak ingin pria di hadapannya tersebut melihat
airmatanya, ia tak ingin mental pria tersebut semakin drop melihat butiran
airmatanya tersebut.
“Tuhan… Selamatkan rumah tangga ini”
sebersit doa terucap di hatinya.
Ya!! Achie sangat mencintai keluarga
kecilnya ini, bahkan setelah sesuatu terjadi di usia 4 bulan pernikahannya pun,
achie tetap tak bergeming, ia tetap memutuskan untuk terus memperjuangkan
pernikahannya, melindungi rumah tangganya, dan mendampingi pria yang selama ini
ia sejajarkan posisinya dengan ayahnya.
“Apa kesalahan aku?? Kenapa ga di
jawab pertanyaan aku?? Ujarnya lagi, memecah keheningan di ruangan itu,
suaranya terdengar bergetar, tercekat ia menahan air matanya, tetap ia tak
ingin menangis.
“ini tuh seperti bom waktu, 5 tahun
aku pendam dan sekarang meledaknya” sepotong kalimat yang tak cukup membuat
achie puas itu cukup membuat achie semakin mengucurkan keringat dingin.
“5 tahun aku berjuang sendiri, kamu
ga pernah sama sekali ngebantuin aku”
“aku berangkat kerja seringnya kmu
masih tidur, aku pulang kerja kamu seringnya ga buka pintu, malah terkadang
cuek nonton tv, bahkan ngambilin air minum pun engga” cerocos pria tersebut,
jawaban yang cukup membuat hati seorang achie semakin terkoyak, seolah tak
percaya alasan itu yang di jadikan jawaban oleh pria yang sampai detik ini
masih sangat ia agungkan tersebut. Kepalanya menggeleng lemah, ingin ia
tegaskan rasa ketidak percayaan atas jawaban yang ia terima.
“sudah 5 tahun hal itu terjadi,
kenapa kamu baru protes sekarang?? Jawabnya lemah.
“lalu apa yang itu menjadikan alasan
kmu mendiamkan aku sebulan ini?? Sebulan kmu pergi dari pagi, pulang tengah
malam tanpa aku mengerti kamu ada di mana?? Lanjutnya lirih.
“kebiasaan mengirimkan kabar sesampainya
kmu di kantor pun, hampir sebulan ini sudah ga pernah lagi kmu lakukan”
sambungnya
“LO” kembali tak percaya kalimat
asing itu yang tedengar di telinga achie, semakin luluh lantah hati seorang
achie di buat pria ini, namun tetap di tahanya sekuat tenaga airmatanya, tetap
ia tak ingin pria yang ia sayangi tersebut semakin drop mentalnya melihat air
mata yang tumpah tersebut. Masih sebesar itu ia achie menjaga stabil mental dan
mood sesosok pria yang bediri tegak di hadapnnya itu.
“Aku ga pernah respon?? Bukannya biar
siang aku selalu bales itu semua??” sanggahnya berusaha tegar.
“iya, lo bales, tp ketika udah mau
pulang kantor”
“iya, lo bales… tapi dengan balesan
lo sakit lah, lo minta apalah, bukan dengan sesuatu yang bikin gwe tenang!!”
jawab pria itu gagah, dengan nada yang meninggi, dan suara yang mulai nyaring.
“GWE” luluh lantah sudah hati seorang
achie mendengar sepotong kalimat tersebut, sepotong kalimat yang nyaris tak
pernah ia dengar keluar dari mulut pria itu, untuk membahasakan dirinya di
depan achie, setidaknya selama 5 tahun belakangan ini. Semakin yakin ia terjadi
sesuatu yang tak beres terhadap hubungannya dengan pria ini. Perlahan
gambaran pria di hadapanya tersebut
kabur, tertutup air mata yang sedari tadi telah sekuat tenaga ia pertahankan,
agar tidak tumpah. Masih belum percaya ia dengan sekian banyak alasan yang di
berikan pria tersebut, hatinya masih harus terkoyak dengan suara pria itu, yang
membentaknya, yang bahkan sejak mereka saling mengenal tak sedikitpun achie
pernah mendengar pria itu berkata senyaring yang ia lakukan seperti yang
barusan terjadi. Achie seperti tak lagi mengenal pria ini. Achie semakin tak
mengenali sesosok pria di hadapannya tersebut.
“5 tahun ini berjalan, kenpa baru
protes sekarang??”
“selama 5thn aku tanya, apa yang kmu
ga suka dari aku, kamu selalu cuma menjawab dengan “aku cuma ga suka kamu
rewel” Cuma itu.”
“Lalu sekarang, ini yang kamu jadikan
alasan mendiamkan aku hampir sebulan ini??”
“bahkan kita sudah melewatinya selama
5 tahun dengan keadaan seperti ini, dan bahkan kmu ga pernah protes” jawabnya
panjang, di sela derai air mata yang semakin deras mengalir, dadanya seperti tertindih
batu ribuan ton, Namun apapun itu tak sesakit sayatan di hatinya mendengar
alasan yang bahkan ia pernah membahasnya berdua sebelum peristiwa ini terjadi.
“Khan sudah gwe bilang, ini semua bom
waktu, 5thn gwe pendam dan sekarang meledaknya” Ulang pria tersebut gagah
“Ya!! Tapi kita pernah membahas ini
sebelumnya, dan bahkan kmu ga pernah menjawab dengan semua rentetan jawaban
barusan” hanya itu saja yang sanggup achie katakan sedari tadi.
“Bom waktu”
“Bom waktu”
“lo paham bom waktu ga siy?? Dari
tadi khan gwe bilang bom waktu” Bentak pria tersebut menjawab pertanyaan achie
barusan.
“Okey… kalo seperti itu, lalu apa
yang kmu mau aku buat, agar supaya kamu mau memaafkan aku, dan tidak bersikap
seperti orang asing lagi” sambung achie
“Don’t push me”
“Leave me alone”
“lo tau gwe lah, seberapa lama sih
klo gwe marah sama orang, biarin aja gwe diem sebentar, nanti juga baik
sendiri” jawabnya gagah, mematikan rokoknya lalu melenggang meninggalkan achie
yang masih kalut dengan sejuta pertanyaan di otaknya. Meninggalkan achie yang
masih sekuat tenaga mempertahankan serpihan hatinya agar tak ada lagi yang
jatuh berhamburan di dasar palung hatinya.
Kali ini tak lagi dapat achie
membendung air matanya, ia menangis sesenggukan, semua kata-kata pria tersebut
seolah terulang terus dan terus di telinga dan di otaknya, belum lagi perlakuan
janggal yang laki-laki ini perbuat barusan, semakin membuat matanya buram
karena air mata dan semakin membuat dadanya semakin sesak. Malam itu tak
sanggup lagi kakinya berjuang melewati anak tangga, untuk menyusuli pria
tersebut memasuki kamar mereka berdua, sama sekali achie tak lagi bisa
merasakan kedua belah kakinya, jangankan kakinya bahkan tulang pun seolah ia
tak lagi memiliki.
Dihisapnya dalam-dalam rokok yang
sedari tadi hanya di pandanginya, otaknya tak sanggup berfikir jernih, banyak
sekali yang berlarian di otak seorang achie pada dini hari menjelang subuh itu,
air mata yang sedari tadi di cobanya untuk berhenti, tak juga kunjung ia
berhasil hentikan. Tanggannya semakin gemetar, giginya gemeretak seolah saling
beradu, mendadak tubuhnya mengigil. Dibawah alam sadarnya dia mengambil pisau
alis yang berada dekat dengan tempanya duduk dan menangis itu, dan kemudian
tanpa sadar achie kembali kepada kebiasaan lamanya, kebiasaan yang setidaknya
selama 7 tahun ini sudah tidak lagi ia lakukan. Sayatan demi sayatan ia
goreskan di kulit pergelangan tangannya yang halus tersebut, tanpa sadar
guratan demi guratan menghiasi lengan tersebut, seolah tak ada perih yang achie
rasakan saat melakukannya, kegiatan tersebut baru berakhir setelah ia melihat
butiran-butiran merah yang mulai timbul sebagai akibat sayatan tersebut. Di
bantingnya pisau alis tersebut, mengerang ia tercekat menahan rasa sakit di
pergelangan tangannya itu, lalu kembali ia menangis dengan kencangnya. Ia
merasa terlalu kecewa sehingga kebiasaannya tersebut kembali terulang. Seorang
achie memang dari kecil khatam dengan rasa sakit, saat kecil dulu jika ia kena
amuk oleh kedua orang tuanya, semakin ia menangis semakin gebukan dan bentakan
yang di terima, karenanya achie terpaksa melampiaskan rasa kecewa dan sakit
hatinya dengan menyakiti dirinya sendiri, dan hal itu terbawa sampai ia dewasa,
namun kebiasaan ini pernah sejenak ia tinggalkan saat ia bersama pria yang
selama kurang lebih 7 tahun bersama dengannya. Namun dini hari itu, kembali
lagi kebiasaan buruknya. Achie tak menyadari bahwa apa yang telah terjadi sudah
mulai menyerang psikologisnya, sehingga ia kembali melakukan kebiasaan buruk
tersebut.
Jam dinding yang tergantung di atas
kompor rumahnya menunjukan pukul 06:00 pagi, tak lama alarm pengingat waktu di
handphonenya pun berbunyi, serta merta achie berdiri dan terpaku lama di depan
lemari es di hadapannya. Memutar otak, menanti jawaban dari langit apa yang
bisa dia buat untuk pria tersebut. Di keluarkan bahan seadanya, yang sekiranya
ia ingat cara mengolahnya, perlahan ia mulai mengolahnya dengan penuh rasa
kasih dan ikhlas. Terselip doa demi doa di tiap kegiatannya di dapur pagi hari
itu. Terutama doa agar perlahan apa yang sedang ia perjuangkan perlahan bisa
membuat rumah tangganya yang retak tersebut utuh kembali. Ia sadar ini bukan hal
yang mudah, namun ia sungguh memohon keajaiban Tuhan. Tak hentinya ia memohon
untuk yang kali ini Tuhan mau memihak kepadanya. 06:15 sayup terdengar di
lantai atas, suara alarm penanda waktu bangun laki-laki tersebut, di matikan
kompornya, tergopoh ia berlari kelantai atas, seolah tak ingin kalah cepat
dengan alarm tersebut untuk membangunkan pria kesayangannya tersebut. Di buka
perlahan pintu kamarnya, di panggilnya nama pria tersebut berusaha
membangunkan, di ulurkan tangannya ingin menguncang tubuh pria tersebut, namun
di tariknya kembali, kakinya mudur perlahan. 1000 ketakutan mendadak
menghapirinya, kembali ia teriakan namanya berusaha sedikit keras namun tak
berteriak agar pria itu terbangun
...... THE UNTOLD STORY #PART2
...... THE UNTOLD STORY #PART2

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home