iniblognyachie

Thursday, March 23, 2017

The Untold Story #part. 5



limbung ia membereskan semua bekas makanan di hadapannya
... The Untold Story #part. 4...


SIAPA LAKI-LAKI YANG BERADA SATU ATAP DENGAN KU INI TUHAN??

“Tuhan, siapa laki-laki yang berada di bawah satu atap dengan ku saat ini Tuhan?? Dia bukan suamiku, lalu kau bawa kemana Suamiku Tuhan?? Aku mohon kembalikan suami ku Tuhan, Aku mohon kembalikan ERICK JONATHAN suami ku Tuhan” sebersit doa yang ia ucapkan kala itu, memohon dan terus memohon. Meminta dan terus meminta sang empuna jalan kehidupan untuk mengembalikan sesosok pria bernama ERICK JONATHAN kembali kesisinya, dan terus berharap bahwa bahteranya itu akan baik-baik saja.

**

            Esok paginya semua berjalan sama seperti biasa, tak satu detikpun waktu tersebut dapan mengalahkan kegesitan seorang achie, bak ibu rumah tangga yang sudah sangat khatam, ia memulai semua kegiatannya bahkan sebelum alarm di handphonenya berbunyi. Semua berjalan sama seperti kemarin, menyiapkan makanan, mebangunkan tuan besar, menyiapkan pakaian, manantinya di meja makan untuk sarapan.

Namun ada pemandangan yang sangat mengejutkan pagi itu, apa yang sudah achie siapkan di tempat tidur itulah yang Erick pakai. Di pandanginya seolah mimpi, sedikit berbuncah gembira hatinya, ini hari ketiga ia tak mau kalah dengan keadaan, paling tidak setelah selama ini tak di hargai pagi itu seleranya dalam menyiapkan pakaian sedikit di hargai oleh laki-laki tersebut.

“sangu atau engga??” tanyanya singkat

“boleh deh” jawab laki-laki itu tak kalah singkat.

Bergegas achie mengambil peralatan makan untuk Erick sarapan, dan setelah itu ia mempersiapkan bekal untuk di bawa Erick ke kantor.

“mau lagi minumnya, atau teh itu aja??”

“air putih juga boleh”

“es apa biasa??”

“air kulkas aja”

Percakapan yang lumayan stabil pagi itu, seolah tidak terjadi apa-apa malam sebelumnya. Setelah selesai Erick bersiap, dan achie mengantarkannya ke depan pintu untuk melepasnya pergi ke kantor, sama seperti 2 hari kemarin. Di ulurkan tas kecil Erick, setelah Erick selesai mengenakan sepatu.

“aku berangkat dulu bey. Kamu tidur lah sebentar, jangan ga tidur terus nanti sakit” pamitnya, sembari memberikan pelukan, mengecup bibir achie 3 kali, lalu mengecup kening achie. Ritual berangkat kerja yang 2 hari ini hilang pagi itu kembali mewarnai pagi hari mereka. Di tatapnya laki-laki tersebut, terus di tatapnya sampai berlalu dan hilang di pagar kompleks mereka. Tak terasa setetes air mata menetes di pipi gadis yang memiliki sedikit darah ambon ini, masih tak percaya apa yang baru saja terjadi, seolah mimpi, setelah keributan yang terjadi tadi malam, kemudian pagi itu hal seindah itu yang terjadi. Sungguh hal yang di luar akal sehat achie. Cukup bahagia ia pagi itu.

“meskipun hanya karena iba, tak apalah yah, yang terpenting pagi ini ga ada keramean” batinnya. Kemudian ia bersiap menaiki anak tangga setelah menuliskan secarik pesan untuk mba titin, agar supaya mba titin tidak perlu membangunkannya hanya untuk menayakan masak apa hari ini. Kemudian setelah beberes, mengganti pakaian tidurnya dengan yang bersih, menelan obat sakit kepalanya, di hempaskan badannya di kasur di sisi biasa Erick biasa tidur, di hirup dalam-dalam aroma yang menempel di kasur, bantal, guling dan selimut bagian itu. Ya achie merindukan suamiya. Achie merindukan aroma tubuh laki-laki yang lima tahun ini selalu ia hirup sebelum dan ketika ia membuka matanya setiap hari, aroma yang setidaknya sebulan ini tidak lagi ia hirup. Dan tak lama setelah mengirim pesan singkat kepada Erick bahwa ia minta ijin untuk tidur sebentar karena sakit kepala yang teramat sangat, kesadarannya pun hilang di telan kelelahan yang teramat sangat. Achie tertidur dengan senyum di bibirnya.

**

08.15 kala itu, achie mulai gelisah seperti biasa, seperti hari kemarin, tetap tak juga ada kabar berita, meski sudah mulai terbiasa, namun tetap tak bisa ia tutupin, ia gelisah.

“Tuhan, tadi pagi susah baik-baik saja, jangan ada apa-apa lagi malam ini Tuhan… Boleh??” rayunya kepada Tuhan.

Di nyalakan tv di hadapanya, mencoba ia menikmati tayangan “Dangdut Academy” kala itu, sekuat tenaga ia mencoba untuk santai, seolah semua berjalan seperti biasanya. Namun telinganya tak lepas dari suara-suara di luar pintu rumahnya, lagi tak mau ia kalah dengan apapun demi perjuangannya. di rebahkan tubuhnya di karpet depan tv tempat biasa dimana ia selalu tiduran menanti Erick pulang, dirasakan kesakitan yang amat sangat di sekujur badannya, hadiah dari ketegangan dan kurang istirahatnya beberapa hari ini. Luka goresan di pergelangan tangannya pun tak kalah perih.

10.35 jam kala itu, hampir achie hilang kesadarannya karena kantuk yang sungguh amat sangat. Sayup kembali ia dengar suara motor yang sangat familiar memasuki garasi rumahnya, lompat achie menuju pintu, dirapikan baju dan rambutnya, di siapkan senyuman terbaiknya demi menyambut suaminya yang beranjak kembali pulang, kemudian ia membukakan pintu.

“maaf bey aku kemaleman, tadi kerumah mami dulu, ada yang di urusin, maaf ga ngabarin kamu hp ku mati, powerbank aku kosong, aku juga ga bawa kabel charger” alasannya panjang, sembari memberikan tasnya kepada achie, mengecup kening achie, mengecup bibirnya 3 kali dan kemudian masuk kedalam rumah mengikuti achie.

“iya ga papa” senyum achie merekah seindah bunga sakura yang bermekaran. Sambil menyodorkan segelas air dingin. Lalu berlalu mengambil piring, untuk menyiapkan makan malam saat itu.

“aku mandi dulu yah, gerah banget” pamit Erick dan berlalu tanpa sempat achie menjawab.

“Terimakasih Tuhan. Biarkan ini baik-baik saja sampai besok pagi. Cukup Tuhan aku lelah, aku ingin istirahat semalem saja.” Batinnya. Dan kemudian semua berjalan baik-baik saja, obrolan hangat di meja makan malam itu, sungguh di luar kepercayaan achie, Tuhan dan dewi fortuna sungguh-sungguh berpihak padanya malam itu, tidak ada sedikit pun keributan malam itu. Hatinya tenang.

“Ya Ampun bebey. Itu tangan kamu kenapa siy” tanya Erick, rupanya dia baru melihat sayatan di perelangan tangan achie. Telonjak achie terkejut dengan pertanyaan tersebut

“Bego lo chie, bagaimana bisa lo lupa nyembunyiin luka ini sih” umpatnya memaki diri sendiri.

“Engga… Ga luka kok… ga papa” sambungnya lalu menyembunyikan kedua pergelangan tangannya. Jantungnya berdegup kencang, seketika ia di selimuti ketakutan yang amat sangat, ia hanya tak mau hal sepele ini menjadi bahan keributan lagi di malam itu.

“You lie!! Sini aku liat”

“Engga.. Ga papa kok.. ga ada apa..”

Erick berdiri dari kursinya, menghampiri dan menarik tangannya, sementara achie berusaha sekuat tenaga menghindar.

“siniin tangan kamu, atau aku marah” sambung Erick, ragu ia ulurkan tangannya.

“maaf bebey, tapi ini ga papa kok sungguh”, Erick mengusap sayatan di pergelangan tangan wanita tersebut, dan menggeleng ia, menatap dengan tatapan kecewa. Entah ia kecewa pada dirinya, atau kecewa pada Wanita dihadapanya tersebut.

“Jangan gini donk bey. Kok kamu jadi gini siy??” katanya seakan sedih.

“iyah.. engga lagi, aku juga ga tau kenapa ini bisa kumat lagi”

“pake apa kamu bikin ini semua??”

“pisau alis, pisau roti sama garpu” jawab achie lemah takut-takut”

“mana pisau alisnya??” sambung Erick lagi

“itu di tempat sendok di kolong meja makan” kemudian Erick berdiri, berjalan menuju tempat sendok, mencari pisau alis tersebut dan mengambilnya.

“aku buang yah bey?? Aku ga mau kamu gini-gini lagi” achie pun hanya bisa mengangguk lemah, ia tak merasa punya pilihan saat itu, yang ia bisa hanya memandangi Erick membuang pisau alis saksi kesedihannya itu jatuh di tempat sampah dapur. Kemudian Erick menghampirinya kemudian memeluknya. Achie memejamkan matanya, ia hirup dalam-dalam aroma tubuh suami yang memeluknya tersebut. Sedetikpun ia tak mau membuang kesempatan yang sangat sempit itu. Air matanya tergenang. Ternyata achie memang sangat merindukan laki-laki yang sedang memeluknya sangat erat itu.

“kamu sudah makan??” lanjut Erick mengusik khusyuknya achie menikmati pelukan tersebut.

“belum… dari 3 hari kemarin juga aku belum makan ama sekali” jawabnya lemah, dan mendadak seolah mendapat kesempatan, gembel di perut achie pun kembali berdemo.

“Yah ampun… bebey” ujarnya sedikit tinggi nadanyan. Kemudian memandang achie, dengan kesal.

“makan yah…” sambungnya dan di jawab oleh achie hanya dengan gelengan lemah. Perutnya sakit, tapi sungguh pun ia tak sanggup untuk makan.

“makan!! Aku ambilin” kemudian berjalan Erick ke arah ricecooker.

“nasinya ga ada bey, berasnya Cuma cukup buat makan satu orang, dan itu udah buat kamu td pagi sama makan malam barusan” jawab achie takut-takut.

 “kamu kenapa ga bilang siy kalo ga ada beras?” timpalnya, dan achie hanya diam.


“yah klo lo lagi ga singit siy gwe berani mintanya, ini khan g salah ngomog sedikit, jatohnya bisa tusuk-tusukan” batinnya

“aku telp. Heri kamu  makan yah” ujar Erick menawarkan, dan hanya di jawab dengan anggukan lemah oleh achie saat itu, ia ingin menolak tapi sakit dan perih di perutnya menguasai alam bawah sadarnya agar mengangguk.

Tak lama kemudian tukang nasi goreng langganan mereka datang, Erick memesakan makanan untuk achie, sementara di dalam rumah achie sibuk mencubiti dirinya sendiri, ia ingin memastikan bahwa dia tidak sedang bermimpi. Bahwa apa yang terjadi barusan adalah sebuah hal nyata. Ada bahagia di dalam hatinya, meski ia juga tak dapat menyingkirkan rasa ketakutan yang masih begitu besar. Ia takut ini hanya sementara.

“nih bey, makan yah” kata laki-laki tersebut seraya menyodorkan sepiring penuh nasi goreng.

“don’t wont” jawabnya mencoba bermanja kembali pada laki-laki tersebut seperti sebelum terjadinya keributan demi keributan di rumahnya. Erick mendekatkan wajahnya ke wajah achie, lalu mencium keningnya, membelai rambutnya.

“makan lah, habisin yah bey” rayunya pelan agar supaya achie mau makan.

“tp lihat nih, perutku sudah rata, tiga hari ga makan sama sekali” canda achie sembari memperlihatkan perutnya yang sugguh terlihat perbedaanya, kala itu perut achie memang sungguh-sungguh rata.

“ya tapi tetep harus makan lah, masa ga makan” jawab Erick singkat

“udah cepet makan, aku sudah mulai ngantuk” lanjutnya. Di warning dengan perkataan ngatuk, achie mendadak panik dan kemudian bergegas ia menyantap nasi goreng di hadapannya, agar supaya tak membuang waktu istirahat pria tersebut.

.... The Untold Story #part.6...
10 menit achie selesaikan makanya, bangkit berdiri membereskan semuanya

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]



<< Home