The Untold Story #part. 4
“ya lo juga apa pernah peduli perasaan gue di rumah nyokap bokap lo, yang seperti ga pernah di anggap” debatnya
... The Untold Story #part.3...
LAKI-LAKI ITU BERNAMA ERICK JONATHAN
“ga pernah di anggap bagian mananya
siy??” Achie semakin terpancing emosinya
“ya lo bayangin aja, tiap kali kita
dateng, bapak lo selalu nuduh gue klo gue selalu melarang lo untuk kerumahnya,
bapak lo selalu nuduh gue yang ngelarang lo untuk nengokin dia” berhenti
sebentar laki-laki itu berbicara, sembari menatap kearah wanita di hadapannya dengan
penuh kebencian.
“dan pas mau pulang, dia selalu
bilang klo pasti gue yang ngajakin lo cepet-cepet, pulang. Belum lagi ibu lo
yang selalu setiap kita dateng dia selalu langsung masuk kamar, kaya ga peduli
dan ga suka klo gue dateng ngaterin anaknya” katanya panjang menyanggah jawaban
achie yang terakhir.
Kala itu habis sudah kesabaran seorang
achie, luluh lantah di telah jawaban laki-laki di hadapannya, sudah tak peduli lagi
achie dengan apa yang sudah di pertahankannya dari tiga hari kemarin, emosinya membuncah, begitu ia mendengar orang menilai jelek tentang papanya, baginya
semua orang boleh menginjak-ijak kepalanya, tapi jangan pernah orang lain
menyenggol papanya, bahkan seujung kku saja berani, menyenggol papanya maka manusia itu akan berurusan hidup dan mati dengan dirinya.
Perlahan achie bangkit dari kursinya,
bergeser sedikit berdiri tegak di hadapan laki-laki yang sudah mulai menginjak
papanya tersebut. Membungkuk ia menyamakan letak bibirnya di telinga laki-laki
tersebut, lalu di bisikkannya pelan
“tapi setiap kali papa ku mengatakan
hal itu, aku selalu bisa dengan lantang membela kamu khan?? Tapi setiap mama
marah sama kamu, aku selalu bisa khan membela kamu, sampai aku yang akhirnya
harus ribut sama mama?? Sekarang bilang kapan aku ga pernah ngebela kamu
mati-matian di depan Papa.. di depan Mama?? Sekarang bilang kapan aku ga pernah
ngebela kamu mati-matian di depan semua orang?? Liat mata aku, dan jawab!! Teriaknya
satu jengkal dari telinga laki-laki tersebut, dan membuat badan laki-laki
tersebut terguncang kaget.
Kapan aku tidak pernah bisa membela
kamu di depan semua orang?? Dan pernah kamu bisa membela aku di depan orang
lain?? Ga usah lah di depan orang lain, hal sesimpel kamu membela aku di depan mami kamu
saja apa bisa?? Tantangnya dengan nada tinggi dan suara yang memekakkan
telinga, sungguh tak dapat lagi achie menguasai emosinya, giginya gemeretak
mengikuti amarahnya kala itu.
“gue ga pernah membela lo??” potong laki-laki tersebut sebelum achie kembali melanjutkan kata-katanya.
“lo ga pernah tau aja, sejak lo ga
pernah mau ikut gue kerumah mami”
“Ga pernah mau?? Koreksi tolong”
lantang achie memotong pernyataan tersebut
“ya apalah kata-katanya, yang pasti
setiap kali lo ga mau ikut ke rumah mami, gue selalu ngebelain lo di depan mami, yang gue bilang lo sakit lah, atau bikin kue lah, atau apalah, apa lo tau
itu?? Cerocosnya panjang tak kalah tinggi dan nyaring.
“jelas aku ga pernah tau, kamu ga pernah
melakukan di depan aku, seperti aku selalu bisa ngebelain kamu secara langsung
di depan muka kamu kok, gimana aku mau tau?? Yang aku tau, tiap kali aku minta
pembelaan mu di depan mami mu, kamu ga pernah bisa ngebelain aku” lantang
katanya, tak bergeser sedikitpun dari posisi berdirinya, matanya lekat menatap
laki-laki tersebut seolah achie sengaja menantang
“biarlah, jika malam ini harus sampai
tusuk-tusukan, demi membela papa, aku ihklas mati’ ujarnya dalam hati.
“ga pernah bisa ngebelain lo secara
langsung gimana maksud lo??” jawab laki-laki itu seolah tak percaya achie bisa
membalikan pernyataannya dengan cukup cepat dan tanpa berfikir.
“inget pada saat gwe selesai di
babtis beberapa tahun yang lalu, dengan entengnya nyokap lo itu ngomong kesemua
orang yang di kenalnya, dan di temui nya, klo gwe itu harusnya belum boleh di
babtis, karena jarang ikutan pelajaran??” lantang achie menjawab, di lihatnya
tajam mata laki-laki itu, yang terbelalak terkejut mendengarkan lantang jawabanya.
“apa pernah lo tau perasaan gwe saat
itu?? Apa pernah lo tau?? GA!! Jawabnya setengah mati menahan emosinya,
"Dan penyataan mami lo itu terus di ulang di mobil, saat kita mau pergi makan di tempat yang jauh itu. “belum sah di babtis dia ini, karena kelasnya ga komplit” kata mami lo begitu dan lo inget ga jawaban lo apa saat itu??” lo inget ga?? JAWAB!!" Teriaknya tak kalah kencang dari jeritan pertamanya tadi, seolah tak peduli bahwa manusia satu kompleks pun bisa terbangun karena jeritannya. Dan semakin lantang membeberkan hal yang terjadi, laki-laki di hadapannya semakin tak percaya bahkan hal sedetail itu pun achie masih sanggup mengingatnya.
"Dan penyataan mami lo itu terus di ulang di mobil, saat kita mau pergi makan di tempat yang jauh itu. “belum sah di babtis dia ini, karena kelasnya ga komplit” kata mami lo begitu dan lo inget ga jawaban lo apa saat itu??” lo inget ga?? JAWAB!!" Teriaknya tak kalah kencang dari jeritan pertamanya tadi, seolah tak peduli bahwa manusia satu kompleks pun bisa terbangun karena jeritannya. Dan semakin lantang membeberkan hal yang terjadi, laki-laki di hadapannya semakin tak percaya bahkan hal sedetail itu pun achie masih sanggup mengingatnya.
“saat itu kamu menjawab dengan
lantang “ya nanti ikutan lagi katekisasi di pondok indah” ucapnya menirukan
jawaban dari laki-laki tersebut kala terjadinya kejadian itu beberapa tahun
silam.
“kamu pernah tau ga, sebesar apa
harapan aku, kamu ngebelain aku di depan mami kamu, saat itu?? Pernah tau ga??
‘GA’ “kamu pernah tau ga perasaan aku saat denger kamu dengan lantang ngejawab
pernyataan mami mu itu, dengan jawaban mu kala itu?? Pernah tau ga?? ‘GA’ “ jawabnya
tak gentar.
“ingat waktu itu kamu juga ga bisa
belain aku di depan mami kamu, soal id line* aku yang mendadak hilang?? padahal
kamu tau persis kejadian hilangnya id line aku itu?? Ingat ga?? Klo ga ingat
biar aku ingatkan detailnya??” laki-laki itu hanya diam, bukan berusaha
mengingat, tapi tak percaya achie bisa memiliki jawaban selantang itu, bahkan
hal itu bisa achie tangkap dari sorot mata pria di hadapannya
“biar aku ingatkan detailnya yah” ditariknya
muka laki-laki di hadapannya, dia tolehkan kearahnya, lalu perlahan ia kembali
beberkan penjelasannya.
“kala itu handphone ku rusak, hang,
kejadiannya di hadapan kamu, mendadak id line aku hilang, dan aku dengan sangat
terpaksa membuat id line baru. Kamu tau, bahkan sangat nyata dan tau kejadian
itu, beberapa hari kemudian kita kerumah mami mu, waktu itu rumah mami mu masih
di madrasah, lalu mami mu nyindir aku dengan “ada yang ngambek trus line mami
di hapus” ujarnya dengan kembali menirukan kata-kata mertuanya kala itu.
“saat itu aku jawab “engga di hapus,
handphone aku beneran error, hang dan begitu nyala semua aplikasi hilang, dan
linenya juga hilang, yah khan bey” bahkan dengan penuh harap aku meminta kamu
membela aku saat itu, karena memang kamu tau kejadiannya” ulangnya mereka ulang
kejadian dengan sangat runut, matanya tak sedetikpun lepas dari pria di
hadapannya.
“dan kamu ingat ga jawab mu saat
itu??” menghela nafas panjang, seakan memberi waktu untuk laki-laki itu mengingat,
agar bisa memberi jawaban pertanyaannya saat itu. Namun laki-laki itu tetap tak
bergeming. “kamu ingat ga apa yang menjadi jawaban kamu?? JAWAB!! Bentaknya.
Laki-laki itu menarik wajahnya dan menunduk, entah apa yang ada di pikirannya
saat itu, sementara mata achie tetap menatap dengan tatapan menantang.
Tangannya mengerat meremas sandaran kursi makan, yang laki-laki itu duduki.
“mau tau jawaban mu saat itu” di
cibirkannya bibirnya merasa menang kala itu, di angkat badannya, di tarik kursi
di hadapannya, di ambilnya dan di bakarnya sebatang rokok, di tiupkan asapnya
kewajah laki-laki tersebut, seolah sengaja memancing amarah laki-laki tersebut
“jawaban mu saat itu, kembali dengan
lantang kamu bilang “engga tau deh” itu jawaban mu saat itu, mematahkan alesan
aku di depan mami mu saat itu, yang dimana kamu tau persis kok kejadiaannya,
Kamu tau ga kalo saat itu aku berharap untuk pertama kalinya aku minta kamu
belain aku di depan mami mu secara nyata di depan mata ku, kamu tau ga?? ‘GA’
“kamu tau ga apa dan bagaimana perasaan aku saat itu kamu mejawab pertanyaan
mami kamu itu dengan jawaban seperti itu?? ‘TIDAK’ “ jelasnya panjang. Tak
berjeda sedikitpun.
“dan sekarang kamu minta aku percaya
kalo di belakang aku, kamu bisa dan sanggup membela aku di depan mami mu?? jelaskan
ke aku bagaimana aku harus percaya Erick Jonathan” berteriak sangat nyaring,
perlahan di gelengkan kepalanya, seolah tak percaya ia bisa memberikan jawaban
yang sebegitu panjangnya. Ac di ruangan itu nampaknya tak mampu mendinginkan
suasana hatinya, yang bak di injak-injak dengan alasan sepele laki-laki tersebut.
“bisa ga kamu kasih tau aku,
bagaimana caranya aku tau kalau omongan kamu, tentang kamu ngebelain aku di
depan mami mu itu, adalah hal yang sunggu-sungguh kamu lakukan?? Lanjutnya ter
engah.
“nih gwe telp mami, lo bisa tanya
sendiri tentang hal itu” jawab pria itu singit
“heh!! Lo pikir gwe bodoh, klo gwe
tanyain hal itu ke mami lo, sudah sangat pasti mami lo ngebelai lo lah.
Jawabnya mematah kan.
“Soal nyuntik!!” sambungnya kali ini
dengan nada yang cukup rendah dan volume yang pelan, sekuat tenaga achie
menurutkan amarahnya malam itu, di lawannya sakit teramat sangat di kepala dan
perutnya, di tahan pula emosinya yang semakin dam makin membuncah.
“berapa kali aku mau pergi sendiri,
tapi kamu melarang aku?? Hitung berapa kali ERICK JONATHAN!!”
“sekali?? Dua kali?? Tiga kali?? Atau
berkali-kali??” tanyanya perlahan, kemudian dia menanti Erick menjawab??
“ya memang, itu karena gwe
menghindari mulut nyokap lo yang ga enak kalau pas gwe kebetulan nganteri lo!!”
jawaban yang cukup membuat achie terkejut, sama sekali ia tak menyangka kalau
laki-laki yang selama ini menjadi suaminya itu tidak pernah dengan ikhlas kala
harus mengantarkan achie kerumah kedua orang tuanya, untuk membantu mamanya
menyuntikan insulin ke Papanya. Ya Papa achie di vonis mengidap diabetes semenjak
ia berada di kelas 2 smp, dan Papanya harus sudah ketergantungan pada insulin,
sejak papanya memilih menjalani operasi mata, beberapa tahun silam, agar
pandangannya jelas demi melihat wajah anak perempuan kebanggaannya tersebut di
layar raksasa pada saat anak perempuannya itu di wisuda
“ya itu berarti”
“ya itu bukan berarti dengan
seenak-enak jidat lo, lo maksa gwe untuk nganter lo, di jam-jam yang seharusnya
guwe harus sudah tidur” lanjut Erick menyela debat nya.
“OK, FINE!! Klo emang itu mau lo, dan
agar supaya jam tidur lo yang harus berkualitas itu ga terganggu, gwe pergi sendiri
sekarang untuk nyuntik Papa!! Puas hidup lo?? Ujarnya kembali berteriak tak kala
laki-laki itu kembali menyenggol perihal papanya.
“it’s okey klo lo mau gwe anterin, tapi
setidaknya lo harusnya bisa”
“engga!! Udah GA usah. Dari pada lo bilang
gwe ga peduli sama lo, jadi biar mulai sekarang
gwe berangkat sendiri untuk nyuntik papa!!” potongnya lagi-lagi sebelum Erick sempat
menyelesaikan kalimat pembelaannya.
“lagi dari awal gwe bisa kemana-mana sendiri
juga siapa yang ketakutan sendiri sih!!” lanjutnya terengah. Erick tak lagi sanggup
mendebat perkataan achie di dini hari itu.
Kemudian keduanya terjebak di dalam
keheningan, mata achie tak lepas memandangi wajah laki-laki di hadapannya, di
pandanginya wajah laki-laki tersebut dalam dan semakin dalam. Asing bahkan
semakin asing saja wajah yang seharusnya sudah sangat ia hapal luar kepala
garis mukannya, di pandangi terus dan terus wajah itu, di pacu kembali
ingatannya agar segera ia mengingat kembali siapa pria tersebut. Sebegitu
asingnya sudah sesosok ERICK JONATHAN yang duduk di hadapannya tersebut. Di
tahannya sakit di kepala dan perutnya yang bersaut-sautan. Di tahannya serangan
vertigo yang sudah sedari tadi ia rasakan, kali ini achie sungguh tak mau kalah
kalimat di dalam pertengkaran dini hari itu.
“trus ini yang lo biang lo mau berubah
dan lo mau peduli tentang gue??” ucap Erick memecah keheningan. Achie mengerenyitkan dahinya tanda
tak mengerti
“maksud lo??” jawabnya singkat
“lo tau besok guwe masih kerja, dan
jam segini lo masih ngajakin debat, dan bukannya biarin guwe istirahat??
“koreksi!! Guwe ngajakin lo ribut??
Dari awal lo pulang tengah malem, dari awal gwe bukain lo pintu, gwe udah
nyambut lo dengan senyum dan bertanya baik-baik, tapi lo ga jawab, malah
ngeloyor naik untuk mandi” panjang jawabnya.
“dan lalu, lo makan dan ketika gwe
bertanya dengan pertanyaan yang sama, dengan nada suara yang sangat baik-baik
saja, siapa duluan yang menjawab dengan nada 7 oktaf lebih tinggi?? Dan
kemudian lo bilang, guwe ngajakin lo ribut??
“gwe pusing, gwe tidur duluan.. besok
harus lebih pagi karena gwe harus ngurus JHT, lo mau ikut tidur ga?? Jawabnya
tak menjawab pertanyaan achie sama sekali, Achie bungkam, di pandanginya tajam
laki-laki yang seolah sedang melarikan diri dari permasalahan mereka malam
itu.
“yah lo memang selalu begini, terus
begini dan tetap begini klo ada masalah” umpatnya dalam hati. Perlahan di
gelengkan kepalanya menolak ajakan laki-laki tersebut.
“tidurlah tuan, kalau tuan mau tidur
saya pembantu masih harus membereskan semua ini” sambungnya. Memang achie
sengaja menjawabnya dengan jawaban tersebut, sengaja memang ia mau memancing
keributan kala itu. Hatinya muak dengan semua keributan yang tidak pernah
selesai.
Erick hanya memadang achie dengan
cukup kesal karena jawaban itu, menggeleng dan kemudian berlalu dan naik menuju
kamar mereka, meninggalkan achie yang tak satu detik pun pandangannya lepas
dari sesosok laki-laki asing di dalam rumahnya tersebut.
Limbung ia membereskan semua bekas makanan di hadapannya, vertigo yang menyerang sedari tadi semakin parah menguasai kesadarannya kala itu. Bahkan vertigo itu sanggup mengalahkan para gembel yang berdemo di dalam perutnya karena hari ketiga sudah tak satu suap makanan pun yang ia konsumsi. Di pertahankan badannya untuk membereskan semua, dan mempersiapkan semua bahan yang akan di jadikan bahan masakan besok pagi. Setelah rapi semua, di rebahkan badannya, di pejamkan matanya, malam itu tak lagi ada air mata, seolah kering sudah air matanya setelah ia pakai menangis hampir sebulan ini.
“Tuhan, siapa laki-laki yang berada di bawah satu atap dengan ku saat ini Tuhan??
... The Untold Story #part. 5...
0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home