iniblognyachie

Thursday, March 16, 2017

The Untold Story #Part.3



"setidaknya perjuangan hari ini sudah aku lewati dengan sangat baik" Jeritnya senang dalam hati...
.... The Untold Story #part 2...


BERPACU DENGAN WAKTU


Sama dengan malam kemarin, tak bisa ia pejamkan kedua bola matanya, sejumlah ketakutan masih saja menggelayuti pikirannya, walau malam itu ada hati yang kembali melunak, meski mungkin dengan alasan iba, achie masih saja takut masih terlelap tidur dan mengagalkan apa yang sudah ia perjuangkan, sisi ruang batinnya yang lain sibuk merajut serpihan hatinya, otaknya tak henti berkelana pada masa lalu yang manis bersama laki-laki itu, sisi lain batinnya sibuk merangkai apa-apa saja yang mau ia lakukan untuk trus bersama laki-laki ini, hatinya galau meski matanya tak lagi di genangi oleh air mata.

Tepat pukul 5.45 pagi itu ia mulai sibuk di dapur, sembari menahan sakit di kepalanya yang amat sangat, buah hasil dari raga dan pikirannya yang tak kunjung ia beri waktu untuk istirahat. Lauk demi lauk ia siapkan dengan penuh kasih harapan dan doa. Terus ia berpacu dengan waktu kala itu, sungguh-sungguh ia tak ingin kalah barang sedetik pun bahkan harus jauh lebih baik dari hari kemarin niat yang ada di otaknya. Pagi itu tak hanya nyeri kepala dan waktu yang harus ia taklukkan, namun rasa perih perutnya pun ia harus kalahkan, diingatnya kapan terakhir perutnya mendapat asupan makanan, yang ternyata sudah dua hari ia tak makan sama sekali, perutnya hanya terisi teh hangat dan air putih saja. Namun tak apa pikirnya dalam hati, ia anggap ini bagian dari perjuangannya, akal sehatnya hilang begitu saja di telan semua pikiran tentang rumah tangganya.

Kembali terdengar sayup bunyi alarm laki-laki itu, bergegas ia lari menuju kamarnya, kamar yang sudah dua hari ini nyaris tak ia sentuh, semata karena ia takut. Ya…. Ia takut kalah jika terlelap nyaman di kamar itu.

“bey… jam 6.00… kamu ga bangun??” ujarnya membangunkan,

“ya… 5 menit” jawab laki-laki tersebut membalikkan badannya, terpaku achie di depan pintu, untuk menanti 5 menit itu datang, tak sedetikpun ia bergeming di tempatnya, bahkan 5 menit itu sungguh berlalu dengan cepatnya, tak di rasakannya 15 menit sudah ia terpaku berdiri menatap laki-laki itu tertidur.

“Bey… 6.15… nanti terlambat… ayo bangun”

“aaarrrrgggghhhhh….” Jawab laki-laki itu nampak kesal, seolah murka nyenyaknya terganggu oleh suara perempuan yang sedari tadi terpaku, hanya untuk tidak terlambat membangunkannya, lalu dengan kesal laki-laki itu masuk dan membanting pintu kamar mandi. Setetes lagi air mata tertumpah di pagi hari itu, tak menyangka niatnya yang begitu tulus, di hargai dengan hempasan pintu.

“apa lagi ini Tuhan??” tanyanya berbisik, namun ia acuhkan perasaannya. Sama seperti hari kemarin, kembali di siapkan pakaian kerja laki-laki tersebut, berat ia hembuskan nafasnya, seolah tau kejadian kemarin pagi akan terulang lagi, namun tetap ia susun rapi di kasur segala pakaian tersebut. Setelahnya bergegas kembali ia dengan kesibukannya di dapur sama seperti pagi kemarin. Di jejernya semua lauk-lauk seadanya di meja makan, di seduhnya teh hangat, di letakkannya di sisi di mana laki-laki tersebut biasa duduk, tak lama laki-laki itu pun turun dan benar sekali lagi ia menghancurkan harapan achie pagi itu. Perih hanya itu yang achie rasakan, namun di tepisnya rasa itu kemudian cepat ia ambilkan air minum dan nasi untuk laki-laki itu.

“makan yang buat di bawa ke kantor aja” ucap laki-laki itu, 

“loh kenapa?? Trus yang buat sarapan ini, mau di masukin tempat makan??”

“gak usah, males bawa-bawa sangu ke kantor” jawabnya ketus melukai hatinya, di pejamkannya matanya, setetes lagi air mata tumpah pagi itu, usahanya dari sebelum subuh di acuhkan begitu saja oleh laki-laki ini, kembali di sampingkan perasaan sedihnya, baginya mungkin ini ujian berikutnya, laki-laki ini hanya ingin menguji, sebesar apa achie ingin berubah.

“nanti di kantor makan apa??” jawabnya berusaha tegar,

“kemarin sih kenyang sampe sore, karena paginya sarapan” jawab pria tersebut singkat lalu kembali dengan sarapannya. Achie hanya mengangguk lemah, dan hanya bisa memandangi dalam-dalam laki-laki di hadapannya tersebut dengan harapan, tak ada lagi yang terlupa ketika ia berangkat nanti.

“aku berangkat… udah lumayan terlambat” kata laki-laki tersebut menyadarkannya dr lamunan, achie sodorkan tas kecil yang berada di belakanganya, di antarnya pria tersebut ke depan pintu, dengan harapan penuh. Namun hampa sekali lagi pagi itu harapannya berakhir sia-sia. Di kuatkan kakinya agar tak jatuh lagi seperti kemari, berusaha tegar dan tetap tak ingin dia kalah, sungguh-sungguh ia tak ingin kalah.

**

Berkali bahkan berpuluh kali di liriknya jam dinding di atas pintu rumahnya, sudah sangat jauh dari jam pulang kantor, namun tak ada juga tanda-tanda kepulangan laki-laki tersebut, berjuta kali di lirik ponselnya, barang kali ada sedikit kabar yang memberitahu tentang keberadaan pria tersebut saat ini, hatinya resah, panik bercampur kesal juga was-was, pikirannya tak karuan, apa kiranya yang sedang terjadi dengan pria ini, masih sebesar itu ke khawatiran yang ia punya, bahkan untuk laki-laki yang hampir sebulan ini tak mengaggapnya ada tersebut. Lauk-lauk yang terjejer rapi di meja makan terbut sudah berpuluh kali naik ke penggorengan untuk di panaskan, meski tak satu tetes pun berani achie menyentuh dan memakannya, seolah makanan tersebut haram untuknya.

Payah ia menanti dan terus menanti, ini sudah hampir tengah malam, tak juga ada kabar berita, berkali di carinya nama laki-laki itu di ponselnya namun tak juga tangannya tergerak untuk menekan tombol “call”, hatinya sangat ragu ia tak mau mengganggu seperti yang sudah-sudah, namun hatinya juga galau menantikan sesosok laki-laki tersebut sampai di rumah mereka dengan keadaan selamat. Tak kuasa mengendalikan alam bawah sadarnya, kembali goresan yang berbicara mewakili kekesalan hatinya, ia kesal tak sanggup mengalahkan akal sehat dan memenangkan egonya untuk menghubungi laki-laki tersebut, ia kesal tak sanggup mengalahkan ketakutannya hanya untuk sekedar bertanya keberadaan laki-laki tersebut. Sampai pada detik jam kesekian suara derungan motor yang memasuki garasi rumah mereka menyadarkan alam bawah sadarnya tersebut.

Berlari ia menuju pintu rumahnya, di sambutnya laki-laki tersebut dengan senyuman dan perih di pergelangan tangannya. Seperti biasa di raih tas kecil pria tersebut sembari menantikan sentuhan kecil di keningnya, yang hanya di jawab dengan senyuman kecut laki-laki tersebut,

“dari mana bey?? Malem banget?? Tanyanya menyelidik sembari berjalan mengambilkan air minum, dan sibuk menyembunyikan luka di pergelangannya. Tak ada jawaban, hanya berlalu menuju kamar mereka setelah meneguk setengah gelas minuman yang achie sodorkan padanya.

“apa lagi ini ya Tuhan??” ingin sekali ia jeritkan pertanyaan itu, namun ia tahan karena ia tau jeritan itu hanya akan merusak perjuangannya. Sabar ia menanti dan menyiapkan kalau-kalau laki-laki itu akan makan sehabis mandi. dan tak lama laki-laki itu pun turun, duduk di sisi yang biasa dan selalu menjadi singgah sananya, mengisi piring nasi yang sudah achie siapkan dengan lauk kemudian mulai menikmatinya. Lalu mereka tercekam dalam kebisuan yang tak kalah tegang seperti malam kemarin.

“jadi dari mana?? Kenapa ga ada kabarnya sampe semalem ini??” tanya yang penuh keraguan itu keluar dr mulut achie
“apa masih perlu gwe cerita?? Lo khan udah ga mau tau tentang kerjaan gwe… kemaren waktu gwe cerita kalo guwe lagi ngurus JHT* aja lo Cuma jawab ‘WOW’ khan?? Jadi yah buat apalah gwe cerita detailnya ke lo” jawaban cukup panjang yang menambah rentetan sakit hati dan seolah menghantamkan hatinya sekali lagi di dasar laut terdalam, di palingkan mukanya ke arah laki-laki tersebut, di sematkan senyuman manis di wajahnya, seolah jawaban yang keluar dari mulut laki-laki di hadapnya tersebut memuaskan hatinya.

“kok gitu?? Aku khan...”

“iya lo tuh emang gitu, sama sekali ga pernah peduli” potongnya sebelum sempat achie menyelesaikan pernyataannya tersebut, achie menarik nafas dalam, mengatur emosinya, menahan air matanya.

“loh, aku tuh kemaren jawab begitu, Cuma karena aku ga paham mau jawab apa, dan yah baru kala itu juga khan aku jawab dengan sekenanya begitu, yang udah-udah apa pernah??” jawabnya panjang menerangkan dengan nada yang sangat ia jaga agar tidak meninggi seperti sebelum-sebelumnya, biarlah saat ini dia kalah pikirnya.

“ya jawab apa kek, gimana kek, yang pasti jawaban “WOW’ itu cukup ngebuat apa yang lagi gwe perjuangin tuh kya lo anggap ga ada apa-apanya.

“singkat siy itu jawaban, tapi cukup nusuk di hati gwe, dan nyakitin hati gwe!” nadanya tinggi, dan hal itu semakin menggurat hati perempuan yang ada di hadapannya, kemana rasa iba yang kemarin hadir di tengah hatinya, dan sempat membawa kembali pelukan singkat itu pulang, kemarin malam?? Tanyanya dalam hati, bingung setengah mati.

“ya kalo aku ga peduli siy aku ga bakal nanya kamu kemana sampai semalam ini siy, ka...”

“ya itu khan setelah gwe protes, selama ini sebelum gwe protes emang lo pernah peduli?? Kayanya engga yah?? Yang lo peduliin khan cuma diri lo doang” sanggah laki-laki itu memotong, bahkan sebelum achie menyempurnakan pernyataannya, seolah sengaja memacing keributan, seolah memancing kesabaran wanita lawan bicaranya tersebut untuk segera habis, dan meladeni pertengkaran di tengah malam tersebut.

“aku?? Aku ga penah peduli?? Aku yang ga perah peduli apa gimana sih maksud kamu?? Jelasin bagian mana dari sikapku selama ini yang membuat kamu bisa segampang itu menyimpulkan kalo aku ga pernah peduli tentang kamu dan rumah tangga ini??” selorohnya panjang, setengah mati ia tekan nada suara dan kesabarannya, seolah tak terpancing emosinya oleh laki-laki di hadapannya ini, jantungnya berdegup begitu kencang dan semakin kencang seperti ia habis lari marathon sekian ratus kilo meter, masih sempat di sunggingkan tawa di bibirnya yang bergetar menahan amarah.

“di tawarin kerja, di terima tapi di suruh hal yang sesimple buka anting yang di atas aja bahkan lo ga mau, padahal lo tau gue sudah mati-matian nyari nafkan untuk keluarga lo juga, itu yang lo bilang lo peduli” jawabnya tinggi, membuat achie membelalakkan matanya tak percaya

“hal segampang lo ngikut ke rumah nyokap gue, aja lo selalu banyak alesan, sementara lo selalu maksa gue untuk nganterin gue kerumah bokap lo untuk nyuntik, di jam-jam gue istirahat, tanpa lo peduli klo gue juga perlu istirahat, itu yang lo bilang lo peduli sama gue??”  terusnya lagi, tanpa memberi jeda waku buat achie untuk memberi sanggahan.

“di saat gue udah ngantuk, kita udah di tempat tidur, dan lo masih berulah rewel apa lo pernah tau kepala gue sering pusing nahan ngantuk, hanya untuk ngeladenin kerewelan lo itu?? Itu yang lo bilang lo peduli dengan keadaan gue??” achie semakin tertegun dengan rentetan jawaban yang laki-laki ini paparkan sebagai alasan kemarahannya saat ini. Semua hal yang sesungguhnya pernah di bahas sebelum pertengkaran dini hari itu

“okey, ijinkan gue jawab semua pernyataan lo itu yah” jawabnya menahan emosi yang berkecamuk di dadanya.

“soal kerjaan yang kemarin aku di terima itu, bukannya aku udah bicarain sama kamu yah, bahkan klo ga salah aku pun marah-marahnya di depan kamu, bahkan kamu juga ikutan mendikte aku bicara ke adiek jawaban apa yang harus aku bales di chat aku sama adiek saat itu, dan saat itu masih sangat jelas di ingetan aku kalo lantang kamu bilang “aku sih ga maksa kamu untuk kerja, aku ga pingin kamu kerja, tapi kalo kamu mau mencoba ya coba dulu aja” jawabnya sembari menirukan sepotong kalimat dari laki-laki tersebut kala itu.

“ya apa salah kalo aku menyimpulkan, kalo it’s fine aku tolak kerjaan itu” sambungnya lagi, matanya tajam menatap laki-laki yang tak sedikitpun menatapnya kala bicara

“kerumah mami, hitung berapa banyak aku ga mau ikut kerumah mami mu ketimbang aku mau ikutnya, meskipun jujur ‘YA’ aku sedikit berat, tapi aku kalahkan semua itu. Dan please kamu ingat apa pernah kamu tanyakan apa penyebabnya aku sedikit berat ke rumah mami mu?? Ga pernah khan?? Apa, bagaimana perasaan ku sesampainya di rumah mami mu, aku hanya di suruh namatin gamenya, ngutak ngatik handphone yang aku ga ngerti sama sekali, dan klo aku ga bisa  aku dipayah-payahin, sementara kamu di biarkan aja tidur, makan atau apalah” jawabnya panjang, terengah-engah dia menyelesaikan satu bait jawaban itu dalam satu nafas.

“dan apa kamu pernah peduli siy tentang itu?? Seperti biasa kamu di sana Cuma senyum-senyum ngeledekin aku, lalu syapa yang peduli siapa disini” lanjutnya mulai terpancing emosinya.


“ya lo juga apa pernah peduli perasaan gue di rumah nyokap bokap lo, yang seperti ga pernah di anggap” debatnya


... The Untold Story #part. 4...
"ga pernah di anggap bagian mananya siy??" Achie semakin terpancing emosinya

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]



<< Home